Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2018

Ibu Senang Semua Senang

Seorang balita menjerit kesakitan, dahinya memerah. Si Ibu panik, karena lama kelamaan dahi balitanya membengkak kebiruan. Belum selesai dengan kepanikannya, Si Bapak datang dengan bentakannya. Si Ibu semakin panik, tak tahu harus berbuat apa, apa yang dilakukanya menjadi salah. Mata belo Si Bapa semakin menghujam jantungnya, seakan Si Ibu penyebab balitanya celaka, tak becus menjaganya. Rasa bersalah semakin merayapi hatinya. Hingga malam tiba, mata Si Ibu tak bisa terpejam. Padahal lelah mendera tubuhnya. Matanya dipaksakannya untuk tidur, karena  ia harus bangun sebelum fajar. Didekapnya tubuh balitanya yang terlelap tidur, meminta maaf berkali-kali.  Ditiupnya benjolan sebesar bola pingpong yang bertengger di dahi balitanya. Ia terlelap setelah tangisan membanjiri matanya. Ia menangis bukan hanya karena balitanya celaka, tapi juga karena perkataan dan sikap suaminya yang menusuk hatinya. Usia anak balita memang sedang aktif-aktifnya. Butuh konsentrasi dan perhatian yang ...

Si Kupik

Tugas Tantangan Pekan 2 Tema Hewan Peliharaan Si Kupik Bergegas aku menuju halaman belakang, dengan tangan menenteng seember baju siap jemur. Udara dingin langsung menerpa, angin berhembus dari pesawahan dengan kencang. Sepagi ini awan sudah menggelayut hitam. Alamat hujan lebat akan segera turun. Aku urungkan menjemur di halaman terbuka. Aku pilih menjemur di pinggir halaman, bagian yang tertutupi atap rumah. Sebenarnya aku malas menjemur di situ, omelan panjang Mas Eka bak kereta api pasti menjambangi telingaku. Pasalnya tempat itu dipenuhi tanaman hias koleksinya. “Kan tidak indah kalau ditambah hiasan jembrengan baju!” begitu kilahnya. Aku terkekeh mengingat mimiknya waktu itu. Terpaksa aku melanjutkan niat menjemur di tempat itu, mengingat tak ada tempat lain yang cocok untuk menjemur di musim hujan begini. Tempatnya terlindungi dari hujan, tapi sekaligus tersorot sinar matahari bila hujan reda. Makanya Mas Eka memilih tempat itu sebagai tempat koleksi Bonsai Beringi...

Tangkis Penyakit "M" dengan RCO

“Bruuuk ... !!!” Tiba-tiba suara benda jatuh tepat di hadapanku. Mataku yang terlelap sesaat langsung terjaga kaget.  Kutengok benda apa yang jatuh sambil memaksa mataku terbuka lebar. Rupanya buku yang sedang aku baca. Akhirnya buku itu kupeluk sambil kulanjutkan menganyam bulu mataku lagi. Hampir setiap baca buku, mata ini tak bisa diajak kompromi. Baru beberapa halaman atau malah beberapa baris, kelopaknya otomatis menutup pelan-pelan dengan nyamannya. Hm, begini nasib si emak yang enggak bisa meluangkan waktu baca-baca di siang hari. Kalaupun ada, acara TV atau Drama Korea membajak konsentrasi mataku, Hehe. Buku-buku menumpuk di meja yang sengaja aku pisahkan dari rak buku. Niatnya membereskan bacaan, tapi buku-buku itu malah teronggok lesu di sudut meja. Setiap membereskan meja, teringat lagi nasib buku-buku itu. Niat dalam hati setiap malam  harus menyelesaikan membacanya minimal setengahnya,  tapi setelah malam tiba, aku hanya memeluknya saja ckckck . ...

Perkenalan Terindah

Rambutnya tergerai panjang, dibiarkannya dimainkan angin. Dia hanya merapikan poninya yang kaku karena jelly rambut. Seragam putih abu melekat di tubuhnya yang cenderung gemuk. Entah kenapa teman laki-lakinya banyak yang tertarik padanya. Padahal sikapnya sering jutek jika berhadapan dengan mereka. Tapi jangan salah, dia ramah dan friendly terhadap teman-teman perempuannya. Hingga mereka menyukainya. Saat ulang tahunnya tiba, mereka memberikan surprise yang luar biasa. Dia anak baru pindahan dari Bandung. Mengikuti orang tuanya yang berpindah tugas. Padahal baru setahun mengecap romantika anak sekolah di  sebuah sekolah menengah atas negeri di kota Bandung. Namanya langsung ngetop, karena berasal dari Ibu Kota Jawa Barat. Kota yang terkenal banyak perempuan cantiknya hehe. Bukan itu, maksudnya kota yang ramai dan modern . Banyak mall dan bioskop ternama, gudangnya baju-baju yang fashionable. Tempat yang asri dan indah, sesuai julukannya Paris Van Java . Begitu mereka mengen...

Anak Si Bapak

“ Geeer ... !!!“   Semua yang hadir di tempat pemancingan itu tertawa serempak. Hingga riuhnya memekakkan telingaku. Dadaku terasa sesak. Tak tahan memendamnya, akhirnya mulutku berteriak. “Diaaam ... !!!” Tawa mereka terhenti seketika, dan semua mata tertuju padaku. Tapi setelah mengetahui aku yang berteriak, tawa mereka semakin riuh. Aku pun menangis sejadi-jadinya sambil berteriak, “Bapak ... Bapak ... !!!” Bapakku yang basah kuyup karena tercebur ke  kolam pemancingan bergegas menghampiriku, sambil ikut tertawa.  Melihatku berteriak misuh-misuh, mereka semakin gemas. Mereka terus menggodaku. “Bapaknya ceburin lagi ya ... !” Aku semakin teriak histeris sambil menggelantung di tangan Bapak.  Saat itu, usiaku baru lima tahun. Tapi masih melekat dalam ingatanku. Saking sayangnya pada Bapak, aku tak rela orang-orang  mentertawakannya saat tercebur ke kolam pemancingan. Sejak saat itu, teman-teman kantornya memang...