Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2018

Supermoon, Bluemoon, Bloodmoon

Saat bulan di Parigee, dia dekat dengan bumi. Dialah Supermoon Dan dia hadir kedua kali dalam 29 hari, maka dia Bluemoon. Dan Supermoon yang juga Bluemoon, lewati umbra gerhana total Maka muncul warna kemerahan di bulan Nampak seperti tembaga, dialah Bloodmoon. Tiga lunar sekaligus, fenomena alam langka. Seratus lima puluh tahun lalu, mereka terjadi. Dan kini menjambangi kita lagi Buat kita termakan takjub, akan indahnya. Terperangah akan cipta-Nya Tanda cinta dari-Nya, datang agar  mawas diri Rasa yang harus hadir bahwa kita tak kekal Sebagai tanda akhir kefanaan salah satunya Supaya manusia bersujud, sebagaimana mereka bersujud hanya pada Penciptanya. #Day10 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Gara-Gara Si Hitam Berbulu

"Iyy...iyy...,” isteriku menjerit histeris. Tubuhnya seperti cacing kepanasan. Kemudian lari menubrukku. “Ada apa Mih?!,” aku pun kaget dibuatnya. “Itu...Pih !!!,”  telunjuknya lurus ke arah deretan tanaman hias dalam pot, sambil mengekor di belakangku. Kuikuti arah telunjuknya.  Oh...ternyata ada seekor ulat Beringin sebesar telunjuk orang dewasa. Belang hitam putih tidak berbulu. Pantesan bergaya cacing disko, lha ulat petai sebesar butir nasi saja, lari blingsatan. “Udah...ulatnya udah Papih buang. Lanjutin lagi nata tamannya ,” pintaku. “Ogah...!!!, jadi gak mut,” jawabnya bergidik. Lain hari lagi, isteriku melempar tampah berisi  kerupuk yang akan dijemur. Gara-gara ulat bulu sebesar ibu jari jatuh dari langit-langit tepat di hadapannya. Kerupuk berhamburan, dan tak mau membereskannya lagi. Malah menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah isteriku. Begitu takutnya is...

Demi Mata Si Ujang

“Husy...husy...,” desisan keras keluar dari mulutnya, diikuti bunyi kaleng-kaleng yang keras dan berisik setelah menarik  beberapa utas tali plastik.   Suaminya sengaja menyambungkan tali pada ujung kaleng-kaleng, hingga jika tali ditarik keluar bunyi. Burung-burung pun beterbangan sebelum sempat bertengger di ujung batang padi. Bulir-bulir padi yang keemasan sungguh menggoda mereka untuk kembali mencoba keberuntungan. Mata jeli Bu Tani selalu sigap jika ada burung yang nekad mematuk padi. Sementara Pa Tani sedang menyiangi sawah.  Gulma-gulma tidak diperkenankannya mengganggu tubuh padi. Bak ayah melindungi anaknya, Pa Tani benar-benar merawatnya dengan sungguh-sungguh. Pukul sepuluh pagi, waktunya mereka beristirahat. Dibukanya boboko yang berisikan nasi timbel , ikan asin peda bakar, sambal terasi, beberapa potong tempe. Makanan istimewa mereka yang menggugah selera. Dipetiknya lalapan kemangi dan leunca , melengkapi menu makan pagi hampir siang it...

Mu-Tiara-ku (bagian2)

“Aw...!!!,” kurasakan sakit luar biasa di bawah perutku, ketika pertama siuman. Pandanganku kabur, sakit yang kurasakan membuatku tak bisa apa-apa. Bayangan orang-orang di sekelilingku tidak aku hiraukan. Aku hanya merasakan teramat sakit di bawah perutku, seperti sakit diiris sembilu dengan luka menganga. Pandanganku hanya bisa melotot ke atas, menahan sakit. Mulutku serasa terkunci, ingin aku melafalkan syahadat tapi tak bisa. Mulutku hanya bisa menganga. Aku hanya ingat, mungkin ini akhir hidupku. Tiba-tiba ada seseorang yang menuntunku melafalkan syahadat, aku ikuti dengan terbata. Aku pun meneteskan air mata, di tengah kesakitan luar biasa ada setitik ketenangan. Jika waktunya ruhku terpisah dari jasadku, aku sudah melafakan syahadat. Aku meminta ibu untuk memperdengarkan ayat-ayat suci Alquran di telingaku. Aku ingin jika Alloh SWT memanggilku dalam keadaan memperdengarkan kalam-Nya. Ibuku menangis,  menelepon saudara-saudara untuk mengaji di rumah. Dengan pelan...

Mu-Tiara-ku (Bagian1)

Waktunya periksa ke bidan. Sudah tiga puluh delapan minggu. Dua minggu yang lalu, kami berdua sehat-sehat saja. Entah kenapa hari ini terasa lelah dan lemas. Mungkin karena anak balitaku yang berusia satu tahun setengah semalaman rewel, hidungnya mampet. Terengah menuju bidan, kakiku capek menopang badanku yang membesar dengan perut maju ke depan.  Jarak ke tempat praktek bidan tidaklah jauh. Ketika badanku menyentuh kursi tunggu, kaki kuluruskan, terasa lebih enak. Aku pun mengatur nafas. “Bu, tensinya tinggi sekali !. Pusing Bu?,” Bidan Rina menatapku lekat. “Nggak Bu,” jawabku pendek. “Mungkin ibu kecapean jalan ke sini. Istirahat aja dulu Bu,” sambil mempersilahkanku tidur di ranjang periksa. Kami pun ngobrol santai ngaler ngidul. Aku pun merasa lebih rilek. “Hm..Bu, tensinya sampai 200 begini. Ibu harus dirawat di rumah sakit !!!,” air muka Bu bidan berubah khawatir,  sambil membuat surat rujukan. Aku pun was-was. Cepa...

Kelebat Putih

Selepas subuh, buru-buru merendam cucian di halaman belakang rumah. Suasana masih remang-remang. Angin dingin berhembus dari hamparan sawah.  Sekelebat ada bayangan putih di  tengah sawah. “ Hah...apa itu? ”  hatiku dag dig dug. Tak berani menoleh, langsung masuk rumah. Sibuk menyiapkan sarapan dan bekal anak, lupa dengan bayangan putih tadi. Saat menjemur handuk. Kelebat putih terlihat  lagi dari sudut mata. “ Ah..kok masih ada? ”, jantungku berdetak kencang. “ Matahari sudah muncul, gak mungkin masih ada !?. ” pikirku aneh. Rasa penasaran menuntunku mendekat. Kupicingkan mata, maklum rabun jauh menahun. Tidak berbentuk bayangan lagi, itu terlihat nyata. Berayun-ayun di sebilah bambu. “Oh...itu...!!!,” aku terpekik. Cepat- cepat aku keluar rumah. Jalan satu-satunya adalah memutari rumah-rumah, padahal tempat yang aku tuju tepat di belakang rumah. Gak mungkin aku lompat ke sana dengan ketinggian hampir tiga meter. Ya ...

Padi vs Petani

Seperti ia mohon Dengan kasih ia jaga Sekalipun hujan surut Ia alirkan dari jauh Padi kecil tumbuh Disianginya gulma Serangga serang mewabah Insektisida beraksi Senang rupa ia Pandangi riakannya Bersih pantulkan cahaya Siput pun bergumul lumpur Padi tiba menguning Menarik burung menari Mematuk bulir-bulir Bertingkah licik goda petani Dijaganya siang malam Harap bulir utuh berisi Dipasang replika petani Takuti para pencuri Kolaborasi apik keduanya Saling beri manfaat Petani jaga padi Padi beri bulirnya Makin isi kian runduk Pepatah lama kuat bestari Ilmu padi jadi panutan Siapa pun yang ingin beradab #OneDayOnePost #ODOPBatch5 #Day4

Cukup Dijalani Saja

Pagi buta  ia sudah bersiap menuju rumah majikannya. Ia rela bangun jam tiga pagi, agar bisa membereskan semuanya, maklum ia harus menghidupkan api di tungku untuk menghemat gas.    Setelah selesai mencuci baju, mencuci piring, menjerang air dan menanak nasi.  Ditinggalkannya setoros kerupuk blek sebagai lauk makan. Suaminya masih tidur, sementara anak-anaknya bersiap berangkat sekolah. Sebelum berangkat, dia menyuapkan sekepal  nasi tutug sebagai pengganjal perut. Kemudian menyeruput teh manis hangat yang nyaris tawar, gula di toplesnya tinggal tersisa di sudutnya. Cepat-cepat dia pergi menuju rumah majikannya, tidak lupa menciumi ubun-ubun anak-anaknya. Suaminya  dibiarkan terlelap dalam buaian mimpi. Percuma ia bangunkan, hanya makian yang didapat. Lebih baik jangan diganggu tidurnya. Anak-anaknya sedang sarapan dengan lauk seadanya.  Anak bungsunya yang masih kelas 1 SD, ia percayakan pada si sulung. Benar saja dugaannya, majikannya sudah m...

Terminal Bis

Panas langsung menyengat kulitku. Rambut panjangku sudah tidak beraturan.  Debu ber campur keringat membuat rambutku terasa gimbal. Gatal menambah kegelisahanku. Sudah hampir satu jam aku mematung di trotoar terminal bis ini. Tempat tunggu yang teduh   penuh sesak. Lalu lalang orang-orang naik dan turun bis, teriakan kondektur, calo-calo dan preman,  menjadi pemandangan satu-satunya. Pengamen waria  di sampingku menyanyikan lagu dangdut dengan keras, bersaing dengan suara calo menawarkan bis padaku dan calon penumpang lainnya. Badannya meliuk-liuk ala ratu ngebor, diiringi musik yang memekakkan telinga dari tape yang digantungkan di lehernya. Suasana menjadi tidak karuan. Aku beri uang recehan. “Makasih...cantik...,” ucapnya mengerling, suaranya persis laki-laki tulen. Membuat alisku terangkat. Mataku kembali sibuk mencari sesosok tubuh tinggi tegap diantara kerumunan orang. Aku lirik notifikasi ponsel, tak ada pesan atau telepon masuk. Pandanganku k...

Aku dan Hal Istimewaku

Waktu kecil, sebenarnya aku anak periang. Mudah mendapat teman, walau sering berpindah tempat tinggal mengikuti orang tua berpindah tugas. Tapi semenjak remaja, teman-teman mengenalku sebagai anak pendiam. Hanya beberapa orang saja yang menjadi teman dekat. Entah mengapa aku termasuk anak yang tidak percaya diri. Merasa tidak punya keistimewaan apa-apa. Aku lebih nyaman menarik diri.  Aku lebih betah tinggal di rumah saja. Membaca novel atau majalah, bagiku cukup menghibur dalam mengisi hari- hariku.  Karena sering berpindah tempat tinggal, otomatis sering berhadapan dengan situasi, tetangga, sekolah, dan teman-teman yang baru. Bertemu dengan berbagai karakteristik orang. Hingga akhirnya aku bertemu dengan teman-teman yang mengajakku lebih mendalami secara kaffah agamaku, Islam.  Sejak itu aku lebih mengenal diriku sendiri, kelebihan dan kekuranganku. Aku lebih percaya diri. Menyadari bahwa Alloh SWT menciptakanku dengan tidak sia-sia. Aku jadi lebih suka tampil apa adan...

Bila Kak Ros Marah

Enaknya berbaring di dadanya. Hangat !. Hembusan nafasnya terdengar lembut, dadanya naik turun, membuatku serasa diayun-ayun. Makin betah saja, enak bobo manja. Aku pun terlena dan tertidur pulas. Tiba-tiba ada suara berisik dari arah pintu, membuat dadaku berdegup kencang, daun telingaku berdiri. Aku tajamkan pendengaran. Benar saja dugaanku, ada yang masuk rumah dengan tergesa dan  menghambur ke arahku. Mataku pun membulat mempertajam penglihatan. Tiba-tiba dia merangkulnya erat, menciumi tangan dan pipinya, hingga aku terguling. Dia tak menghiraukanku. Aku pun berlalu dengan sedih. Kubiarkan mereka melepas rindu.  Siang itu  udara terasa dingin, air berjatuhan dari langit. Perutku berbunyi minta diisi dan terasa mulas.  Kuhampiri tempat makanku, kosong!. Perutku makin melilit. Kuhampiri meja makan, aroma sedap datang dari tudung saji. Tapi aku tak bisa membukanya. Akhirnya aku aduk-aduk tong sampah biasanya ada tulang-tulang, lumayan untuk mengganjal peru...

Bujangku

EBulan masih menggantung di langit  gelap. Belum waktunya bergeser ke belahan bumi yang lain. Bintang tak satu pun menemaninya. Udara dingin menggigit. Aku menggigil menunggu Bujangku pulang. Tadi sore dia pamit pergi ke rumah temannya. Beberapa hari ini, dia sering pergi sore pulang hampir tengah malam. Sekarang hampir menjelang shubuh, Bujangku belum juga pulang. Akhirnya aku pun masuk rumah, kurasakan sendi-sendi tangan kakiku ngilu. Aku pun tertidur di sofa usang. Adzan shubuh sudah berlalu. Jarum panjang jam dinding menunjukkan angka 5. Terkejut menyadari kalau pagi sudah menyongsong, jangan-jangan Bujangku mengetuk pintu ketika aku terlelap. Tergesa membuka pintu, Bujangku tak nampak di kursi teras. Tiba-tiba cemas menyeruak. Jantungku berdetak kencang. Sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Naluri ibu selalu peka. Hingga menjelang tengah malam, Bujangku belum menunjukkan batang hidungnya. Gelisah dan cemas tak jua reda. Tadi pagi, tiga adiknya kubawa serta mencarinya. K...

Welcome to Pena Kayyisa Jasmine ^^

Nama saya Ria Indriani. Lahir di Bandung, 13 Agustus 1974, saya seorang ibu rumah tangga yang dianugerahi tiga orang buah hati yang manis-manis 😍 Kegiatan sehari-hari saya selain menjadi ibu rumah tangga, juga mengerjakan berbagai kerajinan tangan dari bahan flanel, perca, dan kain batik, berupa accesories, cover perlengkapan rumaj tangga, sarung bantal kursi dll. Dengan brand "Kayyisa Craft" Saya mempunyai hobby menulis walau belum mempunyai prestasi menulis tapi bermotto "Tiada lata terlambat untuk belajar." So, welcome to my blog,I hope you like it and enjoy my post 😉 Facebook : Ria Indriani Instagram : @Ria.Idriani.587