Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2018

Tim yang Hebat

Selesai mandi, badanku bersih tidak bau amis lagi. Saatnya mengeringkan badan dengan sinar matahari pagi yang hangat. Kesenanganku terusik ketika tiba-tiba ada yang menindihku. Badannya basah kuyup. Badanku jadi ikut basah lagi. “Uff ... !!” Aku jadi dongkol dibuatnya. Tiba-tiba tempat ini kurasakan jadi sempit. Aku pun jadi terhimpit. “ Heh ... Garpu!!! Lihat aku jadi basah lagi, padahal tadi sudah mau kering!” Aku bentak Si Garpu. Si Garpu pun terkaget-kaget.  Badannya terselip  diantara aku dan Gelas. “Bukan salahku, dia yang melemparku kesini!” Garpu tak kalah sengit. “Sabarlah, nanti juga kita pindah tempat!” ujar Gelas. Dua jam berlalu, aku sudah nangkring manis di wadah yang cantik bertutupkan kaca. Badanku digantung dengan tataan yang apik bersama sendok-sendok dan garpu-garpu lainnya. Tempatku di meja makan, bersebelahan dengan vas bunga yang menawan. Aroma sedap selalu menggugahku, ingin cepat bermain di atas piri...

Karunia Rasa

Memahat hati di keriangan Mengukir rasa  di senyuman Menanam cinta di kerlingan Pun sudah pupus kegundahan Tenggelamkan semua galau Singkirkan semua nestapa Sudah tiba satukan rasa Jabat erat langkah menyatu Berpayung keindahan semesta Karunia rasa tersuguh indah Panorama penyejuk jiwa Syukur nikmat tiada terperi            Sumedang, 27 Februari 2018 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Seru Bersama ODOP

Seru Bersama ODOP ODOP? Apa itu? Keningku berkerut ketika temanku menyebutnya dalam status postingannya di Media Sosial Facebook. Akhirnya aku ikut kepoin ODOP. Ow ... aku jadi tertarik dengan ceritanya. Dan melihat prestasi menulisnya melejit setelah mengikutinya. Hanya ketika kuketahui aturan dan syarat mengikutinya saya agak ragu, bisakah aku mengikuti aturan dan syarat-syaratnya? Sempat mundur  ketika ada pendaftaran calon peserta. Tapi semakin lama semakin membuat penasaran. Jadilah aku nekad ikut serta dalam ODOP Batch 5. Pendaftarannya juga melalui seleksi. Merasa keren dech . Hehe. ODOP singkatan dari One Day One Post. Suatu komunitas di bidang kepenulisan. Anggotanya mencakup seluruh Indonesia. Syarat menjadi anggota harus melalui serangkaian ketentuan.  Setiap hari peserta calon anggota harus menyetorkan sebuah tulisan pada Media Blog. Tulisan bisa berupa cerita pendek, artikel, atau puisi. Dengan batas jumlah kata yang ditentukan yaitu minimal 300 kata, kecuali p...

Ujian Sakit

Mata sembabnya masih bersimbah air mata. Suaranya melengking nyaris meraung-raung. Aku hanya bisa menatapnya iba, tidak berkutik. Tangan kirinya mengusap- usap pipi kanannya.  Tangan yang lainnya hanya terkulai lunglai, pasrah digeser kesana kemari. Sambil bicara meracau, jemari kurusnya menunjuk sebuah kotak obat. Nada menghiba meminta kapsul kuning yang ada dalam kotak obat tersebut. Kapsul itu yang dirasanya dapat meredakan sakit di pipinya, tepatnya di bagian kanan kepala. Rupanya penyumbatan pembuluh darah di bagian kepalanya membuatnya nyeri tak terperi. Dan menjadikannya lumpuh sebelah tubuhnya, dan bicaranya yang tak jelas. Aku mencoba membujuknya untuk tidak meminum kapsul kuning itu lagi untuk hari ini. Tidak boleh melebihi batas dosisnya. Dan akhirnya aku terdiam setelah mendengar  bentakan tak jelasnya, aku artikan bahwa aku tak bisa merasakan penderitaannya. Aku hanya bisa menatapnya dengan rasa iba yang sangat dalam. Embun di sudut mataku mewakili perasaanku, ba...

Si Emak Abu Gosok

"Nyeng, Emak ikuts dzudzuk yah ...." Suara parau dan bergetar terdengar mendekat. Aku pun bangkit dari tempat tidur meninggalkan bayiku yang sudah terlelap. "Ya, mangga ... ," jawabku singkat. Tanpa memastikan siapa pemilik suara itu,  aku sudah bisa menebak. Suara dengan artikulasi tidak jelas seperti itu menunjukkan kalau pemiliknya sudah tidak bergigi lagi alias ompong. Siapa lagi kalau bukan Si Emak penjual abu gosok. Aku pun menghampiri dan duduk di hadapannya. Kulihat wajah keriputnya yang nampak kelelahan, bulir-bulir peluh menetes di pelipisnya. Cepat-cepat aku mengambil segelas air putih dan menyambar  kue donat di atas meja. "Emak, cape ya ... siang begini belum nyampe rumah?" tanyaku. "Beyum Nyeng, baru laku sedjikits!” jawabnya. Sambil menunjukkan setengah kantong plastik kresek besar abu gosok. Biasanya dia menggendongnya dengan kain sinjang di belakang punggungnya yang sudah bongkok, sambil menyusuri jalan dan menawarkan abu gosok k...

Rizki

Turun dari angkutan kota, langsung menuju pasar. Jajaran pedagang kaki lima masih banyak yang menggelar dagangannya. Siang sedikit sudah tidak ada. Mataku tertumbuk pada bawang merah. Tampilannya merah muda mengkilat dan kering. Ukurannya sedang tidak besar-besar. Hm ... bagus tuch ! Aku lebih suka bawang merah lokal ini, mudah diulek. Hehe. Tapi kok kaki ini terus melangkah, bukannya membelinya. Padahal ada di list belanjaan. Eit ... kok malah berhenti di lapak seorang nenek tua yang terkantuk-kantuk. Di hadapannya ada bawang merah juga. Aku hampiri dan langsung memilihnya, sambil bertanya berapa harganya. Hm ... lebih murah seribu tiap seperempat kilonya dari kios langganan di dalam pasar. Biasa ibu-ibu langsung semangat dech hehe. Walau bawangnya tak sekering dan sebagus tadi, tapi akhirnya membelinya berikut bumbu lainnya. Tiap orang sudah diberi rizkinya masing-masing. Seperti para pedagang di pasar. Walau banyak saingan tapi tetap saja ada yang beli. Seperti pada saat aku memb...

Hanya Doa

Rasa perih tepat di hatinya yang terdalam, membawa kakinya melangkah pergi. Tidak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut suaminya barusan. Kakinya terasa mengambang, tatapannya nanar, langkahnya limbung. Tertatih menaiki mobil angkutan kota menuju terminal bis. Sepanjang jalan air matanya keluar deras, walau tissue menyapunya berkali-kali. Hidung merahnya terasa pengap, sepengap hatinya.  Tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya yang memperhatikannya. Marinah sudah duduk di dalam bis, menatap keluar jendela. Pohon-pohon yang mengajaknya berlari, sawah-sawah yang membentang luas tak menjadi perhatiannya lagi. Ingatannya terus pada kejadian tadi. Tetap tak percaya. " Mau apa kamu datang kesini. Gak usah datang lagi ke sini ... !!! Pulang sana ... !!!" Hardikan suaminya mengagetkannya, padahal kakinya baru saja memasuki halaman rumah kontrakan suaminya. Pekerjaan suaminya mengharuskannya terpisah darinya dan anak-anak. Dan mengontrak sebuah rumah. Setiap sebulan s...

Kampungku Sayang

Hujan deras mengguyur bumi Entah suka entah duka Air penuhi sungai Hingga limpahan menggenang kampung Dulu, sungai itu tempatku mandi Bersenda gurau nyanyikan riang Bening bersama ikan berlomba tangkap Kini penuh plastik sampah dan bau Dulu, kampungku menghijau Sesuka hati berebut buah Kini berubah pohon beton Gersang dan air sulit mengalir Alam pun murka Menunjukkan amarahnya Kemarau, air menjadi langka Hujan, banjir genangi setiap sudut Sampai kapan ? Sampai tak ada lagi ruang hidup Dimana anak cucu nikmati alam Bisa bersenda gurau di sungai jernih.                      Sumedang, 21 Februari 2018 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Anakku Harus Pintar

Pukul tiga dini hari, kelopak mataku sudah terbiasa membuka sendiri tanpa dipaksa. Walau kantuk masih menggelayut di bola mataku. Tubuhku refleks terbangun dari tempat tidur yang menurutku ternyaman di dunia. Cepat-cepat aku menuju ruangan bilik bambu. Ruangan tambahan di belakang rumah. Aku ambil beberapa potong kayu bakar  dan  menghidupkan api di tungku perapian. Setelah asap api hilang berganti bara api yang panas. Aku meletakan panci berisi air di atasnya. Siap-siap menuju sumur di luar rumah,  dengan tangan syarat ember-ember yang penuh baju dan piring gelas kotor.      Pukul enam pagi pekerjaan rumah sudah selesai. Anak-anak sudah siap berangkat sekolah. Sementara bapaknya sudah menghilang dari subuh tadi mengantar ibu-ibu ke pasar dengan motornya.  Aku pun bersiap mengantar mereka. Si Sulung menenteng termos berisi es lilin buatannya sendiri. Beruntung sekali ada orang yang berbaik hati memberikan lemari es bekasnya ya...

Panen

Pagi tlah menyapa hari Ia dahului ada di tengah sawah Alat tempur perkakas panen siap beraksi Berbaju rangkap dan bertopi lebar Bergerombol berbagi tugas Bapak-bapak memotong tangkai padi Ibu-ibu merontokkan bulirnya Ilmu turun temurun dari kakek buyut Senda gurau hilangkan lelah Senandung hilangkan penat Bicara soal kebutuhan hidup Tutur soal siasat hidup Bulir padi rontok dari tangkai Ada harap di tiap bulirnya Hamparan bulir padi dijemur Ada asa di tiap hamparannya Tak kenal lelah tak kenal penat Berjuang demi hidup Tak kenal panas tak kenal gatal Bertahan demi perjuangan Sosok tangguh pekerja keras Penuh harap syarat asa Pejuang keluarga pejuang negeri Mereka ada beras pun ada. Sumedang, 18 Februari 2018 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost ...

Rona Merah

Bertanya aku padamu Senyum itu hanya untukku? Mata coklatmu menggambarkan Aku pun mengangguk Cinta mengalahkan takut Kau pun yakin akan keputusan Hingga berani meluapkan rasa Aku bangga Bunga berhamburan di hatiku Pink warnai lensa mataku Senyum merekah hiasi wajah Bersemu rona merah Saat telah tiba Bangunan itu telah mulai berdiri Kita hiasi keindahan Hangatkan jiwa kita Sauh tlah dilepas Biduk tlah berlayar Kau kapten Akulah nahkoda Kayuh bersama sepeda kita Ikuti kayuhmu Aku penyeimbang Menuju satu tujuan.                     Sumedang, 17 Februari 2018 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Cemburu

Cemburu Dua minggu aku berada di rumah sakit ini. Rindu menyeruak begitu dalam. Terakhir bertemu dia berlinang air mata, tak tega aku melihatnya. Aku sudah bosan dengan keadaan rumah sakit, cepat ingin pulang. Tapi dokter belum mengijinkan karena kondisi bayi mungilku masih perlu perawatan. Bilirubin nya masih belum normal, luka saecar ku juga masih basah. Tak tahan aku ingin bertemu dengannya. Kuminta orang tuaku membawanya serta ke rumah sakit. Hari yang ditunggu tiba. Aku menunggu mereka di lobi rumah sakit. Kulihat dari kejauhan mereka datang ke arahku. Aku pun menghambur ke arahnya. Tapi...kecewa yang kudapat, dia yang kurindukan tidak mau aku temui. Dia menghindar ketika kupeluk, bola matanya tak ingin menatap. “ Tunggu aja dulu, dia masih merasa asing, udah lama gak ketemu,” ujar ibuku. Aku pun kecewa. “Khayran... ini mama.” Aku menepuk dada, menjelaskan kalau aku adalah mamanya. Dia malah melengos, dan menyusup di dada kakeknya. Rasa sedih menyelusup ...

Ujung Senja

Bila senja bergilir waktu Surya meredup ke peraduan Menyisakan semburat jingga Gradasi warnai alam raya Alam sepi sisakan temaram Pergantian hari telah tiba Saat manusia bersujud Hewan malam pun bertasbih Tajug, Langgar, Mushola kecil di sisi kampung Orang tua berjajar bershaf Anak-anak belajar kitab Bersenandung sholawat Nabi Temaram makin pekat Gelap kuasai waktu Ujung senja sambut malam Saatnya manusia lepas lelah #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Kerling Matanya

Kerling matanya membuatku gugup. Tubuh semampai berbalut kemeja berlengan pendek dan celana leging, menambah lekukannya semakin jelas. Kulitnya kuning langsat, tertimpa cahaya matahari terlihat berkilau. Rambut lurus tergerai sebahu. Bibir mungil berwarna pink baby senada dengan warna kelopak matanya. Bentuk lengkungan pelangi menghiasi alisnya. Perpaduan indah yang menghiasi wajah ovalnya. Celemek tidak mengurangi nilai penampilanya. “ Hm...siapa dia? Perasaan baru lihat !” Aku jadi penasaran. Kuperhatikan dia sibuk melayani para tamu food court . Kuedarkan  pandangan ke seluruh ruang  food court , penuh sesak!. Tumben, biasanya tak sepenuh hari ini. Tiba-tiba dia menghampiriku. Aku jadi salah tingkah dibuatnya.  Mukaku memerah, karena hampir semua mata penghuni food court laki-laki tertuju padanya, otomatis mereka menatapku juga. Aku pun menunduk, pura-pura sibuk dengan gawaiku. “Ini pesanannya Mas?” tanyanya, dengan nampan di kedua tangannya....

Secuil Pinta

Menggiring waktu perlahan Menyusuri detik terpaksa Melangkah tertatih dan merangkak Terseok tegakkan diri Apatah bila diri tak bermakna Hidup layak benalu memilukan Koar nyinyir mulut sinis Menganga luka ditatap jijik Dunia tidak sehati Tidak seramah kukira Menolak kuberjalan lurus Terjerembab lingkaran setan Tolong aku dunia Ulur tangan tuntun lurus Mata buta tak bedakan benar Telinga tak senada seirama Aku sebongkah daging bernafas Hanya itu yang dunia tahu Aku ingin ingat Tuhan Secuil pinta pada dunia #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Si Murmer yang Berkhasiat

Sejak kecil aku mengenal Si Murmer ini. Karena tertarik produk lain, kemudin aku tidak memakainya lagi. Suatu saat, aku terkena penyakit cacar. Tentunya membuat kulit wajah dan tubuhku penuh polkadot hitam-hitam. Membuatku tidak nyaman dan tidak enak dipandang. Teringat bibiku yang dulu berjerawat, setelah rutin memakai Si Murmer berangsur hilang. Akhirnya aku coba memakainya lagi.  Alhasil polkadot di kulitku berangsur  hilang, apalagi di area wajah. Sejak itu aku selalu memakai Si Murmer lagi. Karena pengalamanku ini, aku ingin membagi khasiatnya kepada orang lain. Si Murmer ini bentuknya bulat kecil-kecil berwarna putih, apabila dihancurkan menjadi serbuk seperti bedak. Bisa dipakai sebagai bedak wajah sehari-hari atau pun bedak dingin. Bedak ini berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit wajah seperti jerawat, bruntusan, panu, bekas kuris, dan lain-lain. Aku menyebutnya Si Murmer, karena harganya yang super murah yang pastinya terjangkau oleh berbagai kalangan. Penasara...

Selop Model Baru

Cucian piring masih tersisa beberapa buah lagi. Ku tengok di bawah bak cuci piring, masih ada panci dan ketel. Kulirik jam dinding. “ ups...sudah kesiangan, ”  gumamku panik. “Mama...mau mimi....” Anak bungsuku ikut menambah kepanikan. “Pah...tolong buatin susu!!!” Setengah berteriak aku meminta Papahnya anak-anak membuatkan susu. “ Kemana tuh orang, lagi sibuk begini bukan bantuin ,” omelku berbisik. Nangis Si Bungsu makin kencang. Akhirnya cepat-cepat kubuatkan susu. “Ma...cepat dong, sudah siang! Nanti Papah gak ketemu temen lama. Undangan ini sekalian reunian.” Papahnya anak-anak tak kalah teriak sambil memasang dasi birunya. Rupanya teriakanku tak digubrisnya. “Sudah cuci piringnya nanti diterusin. Cepet mandi!!!” lanjutnya memberi perintah tegas. Akhirnya aku mengalah, kutinggalkan cucian piring. Cepat-cepat aku mandi. Aku mematut diri di depan kaca. Kuoleskan pelembab dan bedak dasar.  Eye shad...

Hingga Menua

Ikrar tlah kauucap Meniti hari menenun asa Selalu bersama Satukan tujuan langkah Setiap suka bersama kecap syukur Setiap duka bersama peluk sabar Setiap himpitan mendera Bersama meniti langkah Mutiara hadir satu-satu Ada yang kembali kita ikhkas Rawat dan jaga saling menitip Ikat batin bersama tak terpisah Saksikan mutiara tumbuh kembang Sedetik tak ingin lewati Bahagia tak terukur tak ternilai Menyusup hati sanubari Usia berganti masa berkurang Tetap langkah seirama Atau ada bersilat lidah Kembali tata berbenah diri Bersama ikrar hati dan niat Saling ikat rasa dan jaga Bersama erat gandeng tangan Hingga menua #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Hanya Soal Waktu

Usia hanya rentang waktu Sementara saja Waktu singkat betebaran di muka bumi Memilih memilah dan dinilai Apa kita termasuk orang merugi Perhiasan dunia bukan milik kita Dititipkan untuk menguji Sementara waktu Memilih memilah dan dinilai Apa kita termasuk orang amanah Keelokan rupa, kemegahan dunia bukan milik kita Dianugerahkan untuk menguji Sementara waktu Memilih memilah dan dinilai Apa kita termasuk orang  bersyukur Ujian datang cobaan hampiri kita Sebagai latihan dan tepaan Sesuai kemampuan diri Memilih memilah dan dinilai Apa kita termasuk orang bersabar Doa harapan tak kunjung senangi diri Hanya soal waktu Dia beri saat waktu tepat Maha skenario bijak Sebagai cinta kasih-Nya #Day23 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Berpulang

Beberapa bulan yang lalu, Kakak laki-laki ibuku yang dipanggil Uwak berpulang ke Rahmatullah. Sebelumnya adik ibuku. Dan hari ini, kakak ibu yang perempuan dipanggil oleh-Nya. Innalillaahi wa innailaihi roji’un . Satu-satu orang tua kami meninggalkan kami.  Usia mereka sudah lanjut. Sebelumnya mereka menderita sakit karena usia, ada yang sakit berat menahun. Aku segera bersiap diri setelah mendengar berita duka. Baru saja aku akan mengerjakan tugas menulis. Laptop yang belum aku sentuh segera kusimpan kembali. Kebetulan jadwal asisten rumah tangga bagian di rumahku. Sengaja aku memakai jasa asisten rumah tangga seminggu sekali, kuatur sesuai jadwalku  menjenguk orang tua. Sehingga aku bisa tenang meninggalkan anak-anak. Perjalanan terasa lambat, macet selalu menjadi alasan. Tanganku tidak lepas dari gawai. Selalu berkomunikasi dengan saudara. Agar tidak ketinggalan berita terbaru dari pihak keluarga duka. “ Dari rumah sakit, janaiz di sholatkan di rumah si bung...

Home Sweet Home

“Aku dua rius!!!” Komentarnya tegas ketika kuungkapkan ada seseorang yang serius padaku. Kupandangi jari telunjuk dan jari tengahnya bergandengan, mengacung ke arahku. Kualihkan pandanganku lurus pada  matanya. Ada degup tak beraturan ketika mataku beradu dengan mata teduhnya. Tak bisa kualihkan lagi, aku terpaku. Jadilah dia yang selalu mengisi hatiku. Tiba saatnya kami dalam naungan ridho-Nya. Bulan maduku tidak di Bali, tidak juga di Singapore, tidak juga di objek wisata yang menawarkan pelayanan jempol bagi sepasang pengantin baru. Aku berbulan madu di sebuah rumah di pinggir bukit.  Jalanan  sekitar bukit, lengang dan teduh. Pohon-pohon jati tinggi besar menaungi rumah di sekitarnya. Jika pagi tiba, sejuk menebarkan kesegaran. Berdua menyusuri jalan setiap pagi, sekedar jalan pagi dan mencari sarapan sederhana. Surabi menjadi sasaran sarapan pagi yang paling kami cari. Kami lalui bulan pertama pernikahan dengan  berbunga. Ma...

Lelakiku

Rambut gelombang tak lagi penuh Satu-satu putihnya menebar Garis di ujung senyum tak lagi satu Pun kerut dahi berbaris-baris Tubuh tegap berotot tak lagi isi Ringkih mulai menerpa tubuh Pikiran di kepala tak lagi sederhana Berpecah-pecah bercabang soal hidup Lelakiku... Setiap helai rambut terjatuh pikirmu menari tentang kami Setiap tetes keringat Pundakmu topang kami Setiap jengkal kerut kulit Khawatirmu bergetar tentang kami Setiap tubuh alami sakit Bukti kerja kerasmu Bakti  kasih  tak terukur Pengorbanan  tak ternilai Demi binar mata kami Juangmu tak terbatas Lelakiku... Lelaki sejatiku... #Day17 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Malam Terkelam

Mobil melaju menembus gelapnya malam. Seakan dikejar waktu kecepatannya melebihi normal. Mungkin juga sopir terbawa suasana hatiku yang duduk di sampingnya. Aku tak mampu berkata-kata, diam beribu basa. Aku hanya ingin diam, dengan hati meratap pilu. Aku lelaki, tapi kali ini aku tak bisa tegar, aku bebaskan air mata bertumpah ruah. Aku manusia biasa. Kudekap ia dalam pelukanku. Aku hanya ingin mendekapnya, sekali ini saja. Hanya kali ini !. Setelah itu aku rela melepasnya. Aku harus ikhlas, walau jantungku terasa terenggut, nafasku berat. Kurasa ruang mobil ini hanya sebesar bejana. Sesak menyekat tenggorokanku. Kau adalah impianku, yang menggenapkan buah hatiku. Permata cantik yang kutunggu. Kini dalam dekapanku untuk sementara waktu. Ya..., malam ini waktu yang berharga buatku. Satu-satunya malam bersamamu. Malam berikutnya tak mungkin aku mendekapmu. Kali ini aku tak ingin memandang wajahmu. Cukuplah sudah pertama kali kau hadir. Aku tak ingin wajah birumu membayangi setiap mala...

Sesal Anakmu

Bergegas memasuki halaman rumah. Satu jam lagi Bapakku akan Sholat Jumat. Aku harus tiba tepat waktu, untuk menjaga ibu sementara Bapak pergi ke mesjid. Menyaksikan mereka yang sudah menua, hati ini khawatir. Bukan menolak takdir, setiap orang akan menua termasuk aku. Tapi karena ibuku terkena stroke sudah tiga tahun ini. Sehari-hari ditemani bapakku, yang mulai merasakan keluhan tua. Sementara aku sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami di kota yang berbeda. Walau jarak tidak terlalu jauh, tapi tidak mungkin untuk pulang pergi tiap beberapa hari menengok dan merawat mereka. Sebisa mungkin seminggu sekali mendatangi rumah penuh kenangan itu. Aku pun harus mengurus dan merawat keluargaku. Sebenarnya, kami meminta bantuan asisten rumah tangga untuk memandikan dan mengganti popok ibu, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tapi kadang dia berhalangan datang, seperti hari ini. Dan adikku yang tinggal serumah dengan mereka, sibuk bekerja untuk menghidupi anak-anaknya. Tiba di depan pintu...

Sebait Harap

Merengkuh sepi di pekatnya malam Memeluk hening di penghujungnya Berselimut rindu dalam dingin Berjubah rasa yang membuncah Hewan malam berbisik syahdu Bersahutan rangkai harmoni Merayu pemimpi tuk terjaga Menghening berpasrah diri Buat rinduku yang tlah berpulang Belahan jiwa ragaku yang kembali Tidak padaku Hanya pada Pemilik sejati Tentram damai di sana Bergembiralah dalam riang Bunda menanti Suatu saat kita kan berkumpul #Day13 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost

Cerita Sopir Angkot

Terik matahari menyoroti wajahku. Aku mematung di pinggir jalan, menunggu angkutan kota yang akan membawaku pulang. Tak lama kemudian angkutan kota yang biasa kupanggil angkot itu pun berhenti tepat di depanku. Segera aku naik, nampak tiga orang penumpang yang ada di dalam angkot. Aku pun leluasa duduk di tempat yang teduh belakang sopir. Jalan raya masih padat, seperti ketika aku berangkat tadi pagi. “Gak narik lagi Bos ?,” sopir membuka pembicaraan dengan seorang bapak tua yang duduk di sebelahnya. Rupanya dia juga seorang sopir angkot. Panggilan ‘Bos’ menunjukkan dia sudah senior. Sedangkan kata ‘ narik‘, diartikan mereka dengan membawa mobil angkot. “Gak ah, badan meni loyo, cepet cape. Apalagi sekarang teu kaharti !!!,” jawabnya. “Iya Bos, masa jam segini belum dapet uang makan,” timpal sopir sambil geleng-geleng kepala. Mereka harus setor pada bos pemilik mobil angkot, baru kemudian mencari untuk dibawa pulang, isti...

TARIAN SAWAH

Padi kecil bergoyang eksotik Bermusik sepoi angin Sesekali deru tiupannya Menggesek ranting demi ranting Suaranya menderu bernyanyi  syahdu Bak biola gesek senarnya Dedaunan melayang melambai Bergaya balerina cantik Mendarat sempurna di muka air Riak pun beranak pinak Bentuk pola lingkaran irama Burung-burung berkepak indah Ikuti melodi nyanyiannya Sesekali berputar genit Berkeling mesra pada belalang Siput pun menari gumulan lumpur Harmoni menyatu bergairah Alam pun riuh sambut riang Senyum sang surya menghangatkan Cairkan kebekuan rasa Semua membara menapaki hari #Day11 #ODOPBatch5 #OneDayOnePost