Ibu Senang Semua Senang
Seorang balita menjerit kesakitan, dahinya memerah. Si Ibu panik, karena lama kelamaan dahi balitanya membengkak kebiruan. Belum selesai dengan kepanikannya, Si Bapak datang dengan bentakannya. Si Ibu semakin panik, tak tahu harus berbuat apa, apa yang dilakukanya menjadi salah. Mata belo Si Bapa semakin menghujam jantungnya, seakan Si Ibu penyebab balitanya celaka, tak becus menjaganya. Rasa bersalah semakin merayapi hatinya. Hingga malam tiba, mata Si Ibu tak bisa terpejam. Padahal lelah mendera tubuhnya. Matanya dipaksakannya untuk tidur, karena ia harus bangun sebelum fajar. Didekapnya tubuh balitanya yang terlelap tidur, meminta maaf berkali-kali. Ditiupnya benjolan sebesar bola pingpong yang bertengger di dahi balitanya. Ia terlelap setelah tangisan membanjiri matanya. Ia menangis bukan hanya karena balitanya celaka, tapi juga karena perkataan dan sikap suaminya yang menusuk hatinya.
Usia anak balita memang sedang aktif-aktifnya. Butuh konsentrasi dan perhatian yang ekstra. Hingga waktu Si Ibu tersita untuknya. Tapi tugas seorang ibu rumah tangga tidak hanya menjaga anak, Ia harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang bejibum dan tidak pernah selesai, kadang membuatnya frustasi. Tak heran banyak ibu menjadi pemarah, bahkan menjadi penyiksa anak. Konsentrasi dan perhatian ibu menjadi terbagi, tidak lagi tercurah hanya untuk anaknya. Jangan salahkan Si Ibu mentah-mentah jika anak celaka. Ada asisten rumah tangga saja tetap repot, apalagi harus mengerjakan semuanya sendirian.
Aku seorang ibu rumah tangga yang selalu ada di rumah. Miris hati ini, jika mengalami hal seperti cerita di atas, turut merasakan. Sudah capek dengan pekerjaan rumah tangga yang sambung menyambung, harus juga menerima bentakan dan timpaan kesalahan. Belum mengatur biaya resiko sehari-hari yang harus sesuai dengan pendapatan, membuatnya pusing tujuh keliling. Si Ibu harus memutar otak keras-keras agar semuanya berjalan lancar. Ia tak gunakan jasa asisten rumah tangga demi menghemat pengeluaran. Malah mencari tambahan agar semua kebutuhan terpenuhi. Bagaimana bisa perhatian dan konsentrasinya hanya tercurah untuk anaknya semata?
Ibu hanya butuh pengertian dan perhatian anggota keluarganya. Buat hatinya tenang dan tentram dengan tidak menuntut semua pekerjaan harus selesai dan sempurna. Tidak menyalahkan mentah-mentah jika terjadi sesuatu dengan anak-anaknya. Bantulah ia mengurus dan menjaga anak. Bantulah pekerjaan rumah tangganya sebisa mungkin. Bapak jangan gengsi membantu ibu. Atau karena merasa sudah bekerja keras untuk menafkahi keluarga hingga tak perduli dengan urusan rumah tangga. Urusan rumah tangga walau dipandang sepele tapi sangat penting dan dibutuhkan. Jika semua urusan rumah tangga harus dibebankan di pundak Ibu, maka buatlah hati Ibu tentram, tenang dan damai.
Jika Ibu tak bahagia, bagaimana ia akan membahagiakan anggota keluarganya?
Karena kunci kebahagiaan keluarga ada di tangannya.
Bu, buatlah diri sendiri nyaman. Buat hati sendiri bahagia walau dengan cara sederhana. Pekerjaan rumah tangga jangan dijadikan beban. Rumah tidak selalu harus kinclong dan rapi. Jangan tanggapi omongan nyinyir. Biarkan sejenak rumah berantakan karena ulah anak-anak, cukup beri perhatian pada mereka, cukup beri kebebasan pada anak untuk mengeksplor dirinya. Perhatikan gerak gerik mereka yang lucu, niscaya memberi kebahagiaan tersendiri. Jika mereka celaka karena keaktifan dan keingintahuannya, jangan panik. Karena kalau kita panik bagaimana menghadapi anak? Sediakan di kotak obat, seperti obat untuk luka luar, obat memar, obat luka bakar, obat demam flu dan batuk, obat masuk angin, dll. Jika anak celaka parah, jangan segan meminta pertolongan tetangga. Karena itu kita harus baik dan bergaul dengan tetangga.
Sediakan waktu walau sesingkat mungkin untuk 'me time'. Agar syaraf yang tegang seharian menjadi rileks. Tiap ibu punya cara masing-masing agar dirinya nyaman dan bahagia. Jika Kita merasa nyaman dan bahagia, maka akan ikhlas dan senang pula dalam mengerjakan tugas dan tanggung jawab. Memang semuanya butuh proses, apalagi buat ibu rumah tangga muda. Tapi lamban laun kita bisa belajar. Semangat Bu Ibu!!!
Komentar
Posting Komentar