Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2018

Membumi Di Bumiku

Dua bulan telah berlalu. Tak terasa aku mengikuti serangkaian ritual literasi yang diadakan ODOP (One Day One Post) Batch 5. Serangkaian tugas menulis dan sharing ilmu. Grup besar ODOP Batch 5, membentuk grup-grup kecil yang didampingi para PJ . Tujuannya agar semua tugas menulis dari peserta terekap rapi. Selain itu informasi dari grup besar tersampaikan dengan lebih baik. Juga agar setiap tulisan peserta mendapat giliran diapresiasi oleh semua anggotanya. Sudah rejekiku, aku dikelompokkan dalam grup kecil ‘Bumi’. Dalam Bahasa Sunda, bumi berarti rumah. Begitulah bagiku, grup kecil ini menjadi rumah literasiku. Di sini, para PJ kuanggap orang tuaku, walaupun usia mereka terpaut jauh lebih muda dariku, bahkan  ada yang beda beberapa tahun dari anak sulungku hehe. Tapi dalam soal menulis, ilmu mereka mumpuni, keren dech . Seperti anak menuruti orang tua, aku patuh pada aturan mereka demi kebaikanku sendiri. Mungkin juga harusnya aku dijewer ya? Hehe....

Semerbak Jasmine (Part 14)

Aku usap ukiran nama yang terpahat pada nisan batu milik Jasmine.   “Jika kau ada, lima tahun umurmu sekarang. Sudah masuk taman kanak-kanak.  Bunda sibuk mengantarmu sekolah ... ” bisikku. “ Tapi Bunda yakin, Jasmine sudah tenang di alam sana, ” lanjutku. Aku taburkan bunga melati di atas tanah kuburnya. Harum semerbak menyentuh hidungku. Desiran serumpun pohon bambu terdengar merdu. Area pekuburan ini semakin luas, semakin banyak nisan bermunculan. Biasanya aku ke sini bersama Mas Nika. Kali ini aku putuskan datang sendirian. Aku harus membiasakan diri, nanti semuanya tidak akan sama. Aku harus mandiri, harus bisa sendiri melakukan segala sesuatunya. Aku melanjutkan membersihkan kubur Jasmine. Tiba-tiba ada yang mendekap tubuhku dari belakang, aku pun meronta sekuat tenaga. Aku tengok ke belakang, nampak Mas Nika tersenyum manis. Jantungku hampir copot dibuatnya. Aku pun marah, dia malah menempelkan telunjuknya di bibirku. Aku pun sadar berada dimana. Dia meminta maaf...

Semerbak Jasmine (Part 13)

Aku tatap wajah Mas Nika dalam-dalam, aku masih sangat mencintainya. Aku ingin membuatnya bahagia. Kuhela nafas dalam-dalam. “Yah, maafkan Bunda sudah menjauhi Ayah!” Kuawali pembicaraan dengan Mas Nika. Mas Nika mengangkat wajahnya, menatap dalam mataku. Ada riak kesedihan di matanya. “Bunda ingin menenangkan diri sendirian.” Selama sepuluh tahun pernikahan, baru kali ini aku bersikap demikian. “Iya, Ayah mengerti. Ayah sudah buat hati Bunda sakit. Maafkan Ayah.” Dia menggenggam tanganku. “Jangan berbuat seperti itu lagi. Lebih baik Bunda marahi Ayah habis-habisan. Ayah merasa sangat kesepian, sangat kehilangan Bunda.” Dia merangkulku erat seakan tak ingin lepas lagi. “Ada yang ingin Bunda bicarakan, serius! Menyangkut Bu Prili!” ucapku tegas. Wajah Mas Nika menegang. “Bunda ingin kepastian dari Ayah! Jawab dengan jujur! Ayah ingin menikahinya?!” pertanyaan yang sudah kupersiapkan berminggu-minggu akhirnya keluar dengan lancar dari mulutku. Dahi Mas Nika bertaut, seakan ...

Semerbak Jasmine (Part 12)

Aku sudah berhadapan dengan ibu mertuaku, sebelum Mas Nika berangkat kerja. Aku sudah siapkan sarapan untuknya. Mas Nika menanyakan kemana aku pergi sepagi ini tanpa pamit lewat telepon gawainya. Rupanya dia tidak membuka pesan whatsappku, bahwa aku pamit berangkat ke rumah Ibu. Aku menjawab teleponnya seperlunya. Ibu merasa heran melihatku datang sepagi ini, tatapannya penuh tanda tanya besar. Mungkin wajahku yang kuyu, kantung mata menghitam dan sembab menjawab sedikit tanda tanyanya. Kuletakan dua mangkuk bubur ayam di hadapannya. Kusodorkan satu mangkuk untuknya, dan kuambil satunya untukku sendiri. Kami pun sarapan bersama. Mungkin karena berhari-hari aku tidak makan, semangkuk bubur ayam sudah berpindah ke perutku, sementara Ibu menyisakannya hampir seperempatnya. “Bu, maaf Diani datang sepagi ini. Ada yang ingin Diani bicarakan bersama Ibu.” Aku buka percakapan pagi ini. Ibu mengangguk, siap mendengarkan. “Mungkin Ibu masih ingat pembicaraan kita dua tahun yang lalu. Ibu...

Semerbak Jasmine (Part 11)

Sepiring nasi goreng masih mengepul di hadapannya. Segelas lemon tea plus madu hangat melengkapi sarapannya. Mata Mas Nika masih menekuri gawainya. “Yah, sarapan dulu mumpung hangat!” tegurku. “Oh ya!” jawabnya pendek. Disimpannya gawainya, langsung menyantap sarapannya tanpa melirikku sama sekali. Belakangan ini sikapnya berubah. Aku maklumi, dia telah mendapat promosi di posisi yang menguras tenaga dan pikirannya. Tapi aku merasa kehilangan Mas Nikaku yang hangat. Awalnya aku tidak ambil pusing, tapi pesan Whatsapp semalam cukup mengusikku untuk bertanya. “Yah, anaknya Bu Prili kenapa? Ayah mengantarnya ke rumah sakit?” tanyaku hati-hati. Suapannya terhenti, matanya lurus ke arahku. Dahinya bertaut. “Semalam Bunda buka pesannya, maaf Ayah sudah tidur,” jelasku.                                      ...

Semerbak Jasmine (Part 10)

Pagi-pagi sekali, Mas Nika sudah siap berangkat ke kantor. Kuperhatikan Mas Nika terlihat lebih muda dan ganteng. Dahiku mengernyit. “ Apa yang membuatnya beda ya?” tanyaku dalam hati. Pakaian seragam perusahaan yang rapi seperti biasanya, aku yang menyetrika. Sepatu hitamnya mengkilat seperti biasanya, aku yang menyemirnya. Kutelusuri wajahnya, mata kecil agak sipit, hidung mancung cenderung besar, wajahnya putih bersih. Rambut ikalnya ... , oh aku baru menyadarinya rambut ikalnya tidak terlihat karena minyak rambut merapikannya. “ Tumben Mas Nika pakai minyak rambut?” tanyaku dalam hati lagi. Merasa diperhatikan, Mas Nika menoleh ke arahku. “Ada apa Bun, Ayah ganteng ya?” godanya. Aku pun melengos merasa kepergok memperhatikannya. “Tumben pakai minyak rambut?” tanyaku, sambil menyiumi wangi rambutnya. “Sekali-kali boleh dong beda ... “ jawabnya. Matanya mengerling nakal ke arahku. Aku baru menyadari Mas Nika bisa juga begitu, aku terkekeh. Dia pun berangkat setelah sarapan n...

Semerbak Jasmine (Part 9)

Malam masih menunjukkan pukul 22.00. Aku selesaikan jahitanku. Mas Nika mengamatiku. “Tumben Bun, jam segini masih menjahit?” tanyanya. Tak salah kalau dia heran, biasanya kalau malam hari aku tak pernah menyentuh jahitanku. “Gak apa-apa,” jawabku pendek. Sepertinya Mas Nika menangkap gejala aneh dalam sikapku.  Dia mendekatiku. “Kenapa Bun? Gak biasanya, ada yang dipikirkan?” Aku membisu. Mas Nika paham kalau aku diam seribu basa, biasanya aku marah atau ada yang mengusik pikiranku. Aku singkirkan jahitanku. Kemudian kutatap matanya dalam-dalam. “Ayah benar-benar ingin punya anak?” Pertanyaan retoris aku lemparkan. Alisnya bertaut. “Sudah pasti   Bun, Bunda juga ingin kan? Dokter kandungan ternama kita kejar walaupun jauh. Kenapa gitu? Kok Bunda nanya begitu?” Mas Nika balik bertanya. “Kalau Bunda gak bisa memberi anak ... , apa yang akan Ayah lakukan?” Aku tertunduk, kumainkan benang jahit. Mas Nika makin mendekatiku. “Kita bisa ngangkat anak “ jawabnya datar...

Semerbak Jasmine (Part 8)

Tiga tahun berlalu semenjak kepergian Jasmine, aku masih merindukannya hingga saat ini. Bayangan peristiwa itu masih melekat dalam ingatanku. Tapi aku sudah mengikhlaskannya, kutata hatiku kembali. Aku sudah sadar dan menerima takdir. Semuanya sudah normal kembali. Mas Nika sudah terbiasa dengan rutinitasnya. Dan aku sudah terbiasa dengan keheningan rumah. Mesin jahit menjadi teman baikku setiap siang hari. Semuanya sudah baik-baik saja. Hidup kami normal kembali seperti biasanya.                                                                                      ...

Semerbak Jasmine (Part 7)

Aku duduk di tepi ranjang, kuedarkan pandangan pada seluruh sudut ruangan kamar. Kamar yang tak begitu luas, tapi aku nyaman menempatinya. Aku hampiri box bayi, aku bayangkan Jasmine ada di dalamnya, tidur nyenyak ketika boxnya kuayunkan. Aku pun mencoba mengayunkan box itu, suaranya berderit lembut. Kuputar kunci mainan yang menggantung di dalamnya, mainan itu mengembang dan berputar sambil mengeluarkan nyanyian merdu. Aku tersenyum tipis, “Andai Jasmine ada di dalam box ini,” batinku. Kuhampiri lemari plastik, di dalamnya sudah tersusun rapi baju, popok, gurita, celana, dan lain-lain. Kuambil topi pink baby bersama sarung tangan dan kaki. Kemudian kucium, wangi pelembut pakaian memanjakan hidungku. Aku pun terpejam, tiba-tiba hatiku terasa sesak tak terbendung air mata keluar dari ujung mataku dengan bebas. “Bun, lagi apa?” Tiba-tiba Mas Nika ada di sampingku. Melihatku terisak, dia mendekapku dan mengusap kepalaku. Kemudian merebahkanku di ranjang, memasang selimut dan merapa...

Semerbak Jasmine (Part 6)

Bunga Kamboja satu persatu berjatuhan. Angin cukup kencang meniup serumpun pohon bambu, sehingga suaranya mendesir seperti suara seruling.   Desiran pohon bambu itu kudengar seperti nyanyian kehampaan, kesepian. Suasana lengang! Hanya ada deretan nisan yang membisu. Jalan setapak memanjang di hadapanku. Di ujung jalan, kulihat gundukan tanah merah membentuk bukit amat kecil. Lambat-lambat aku menghampirinya. Aku sentuh gundukan tanah merah itu dengan gemetar. Aku usap nisan kayu sederhana, di situ tertulis “ Jasmine Binti Jatnika Prasetya. Lahir 10-11-2005. Wafat 10-11-2005.” Jasmine, nama yang kami berikan sejak dia masih dalam rahimku, yang berarti bunga melati, bunga yang harum, berkeinginan kuat, penuh gairah dan penyayang. Nama itu diberikan oleh neneknya, ibu mertua. Bagi kami, nama itu penuh filosofi. Perjuangan agar dia hadir di rahimku adalah keinginan kuat kami. Bunga melati yang berwarna putih   menunjukan kesucian, dan semerbak wanginya menebarkan harapan dan...

Semerbak Jasmine (Part 5)

Kusapu ruangan rawat inap dengan pandangan hampa. Kutatap box bayi yang kosong, aku menghela nafas panjang. Ingin kukeluarkan beban batinku dengan helaan nafas, jika bisa! Kutatap jendela, pohon bunga kertas menghiasi tengah taman. Banyak orang lalu lalang di depan kamarku, kulihat beberapa orang memapah seorang wanita sebayaku keluar dari kamar di seberangku. Menyusul wanita separuh baya menggendong bayi berbalut selimut wol. Mereka terlihat gembira, aku menatap mereka iri. “Oa ... oa ... oa ...!” Suara bayi terdengar, reflek aku menengok box bayiku, kosong! Astagfirullah, itu suara bayi di seberang ranjangku. Seorang wanita tua tergopoh-gopoh menghampiri box bayi itu, kemudian menggendongnya dan menyerahkannya pada ibunya. Ibunya   kemudian menyusuinya dengan penuh kasih. Lagi-lagi aku tatap mereka, tak terasa sudut mataku berair. Aku ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini. Tapi jarum dengan selang terhubung   satu labu darah   tertancap di lengan kiriku. A...

Semerbak Jasmine (Part 4)

“Ibu, diinfus dulu ya ... biar proses kelahirannya cepat!” ujar Perawat. Aku pasrah saja, apa yang dilakukan Dokter dan Perawat. Batinku lelah, melebihi sakit raga yang aku rasakan. Sambil merasakan sakit yang luar biasa, aku usap perutku seakan mengusap kepala mungil calon bayiku. Aku mengenang ketika dia dinyatakan ada dalam rahimku. Saat itu bahagia tidak terkira, apalagi Mas Nika. Kami menunggunya selama lima tahun lebih. Kami mendatangi beberapa Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, juga Dokter Andrologi untuk suamiku. Aku menderita Kista Ovarium, namun jenis kista fungsional yang tidak mempengaruhi kesuburan. Kami baik-baik saja, hanya Alloh memberi rizki kehamilan setelah lima tahun lamanya. Dan masa menunggu itu, sekarang sirna seketika. Masa-masa mengandungnya yang membuatku sangat bahagia, sekarang tidak bersisa. Nama yang sudah kami siapkan hanya untuk mengenangnya saja. Hadiah yang akan aku persembahkan untuk ibu mertuaku tak bisa aku penuhi. Entah bagaimana kondis...

Semerbak Jasmine (Part 3)

  “Ibu, saya periksa ya ...” ujarnya manis. Kemudian dr. Erine melakukan hal yang sama seperti dr. Naning. Meletakkan Fetal Doppler di perutku dan menggerakannya di area perutku. Kembali kudengar suara “ ng ... ng ... ng ....”  Dicobanya sekali lagi, masih kudengar suara yang sama, dr. Erine mengernyitkan alis. Aku tatap Mas Nika ... gusar! Dia mengusap keningku, terpancar jelas kecemasannya. Kemudian kedua dokter cantik itu berdiskusi. Tak lama kemudian mereka menghampiri kami. Mereka mencoba kembali alat itu , seperti ingin meyakinkan dengan pasti. Kembali kudengar suara “ng ... ng ... ng ... “ bukan suara yang kami harapkan, kami ingin mendengar suara “deg ... deg ... deg ...” di perutku. Kedua dokter cantik berpandangan, dan menggelengkan kepalanya pelan. Melihat gelagat kedua dokter itu, Mas Nika merangkulku erat. Jantungku langsung berdebar kencang, pikiranku berkecamuk, mulut dan tubuhku menegang, aku terdiam menatap kedua dokter itu. Aku tak percaya   melihat...

Semerbak Jasmine (Part 2)

Tempat tidur darurat yang dimaksud perawat ternyata sebuah blankar yang ditempatkan di koridor antara pintu masuk dengan  ruangan bayi, otomatis banyak perawat dan orang-orang yang menunggu pasien lalu lalang di depanku, apalagi tanpa gorden sehelaipun. Tapi aku  merasa nyaman ketika tubuhku direbahkan. Dokter cantik itu menghampiriku, memeriksa kondisiku, dan meraba perutku. “Keras sekali!” gumamnya. “Sudah benar-benar kontraksi!” ujarnya kemudian. “Sudah bukaan dua!” lanjutnya. Dokter itu menyimpulkan dengan caranya sendiri. “Pak, bayinya sudah mau lahir, nggak apa-apa banyak bayi prematur yang lahir selamat dan sehat,” hiburnya. Dokter itu mengoleskan sesuatu di perutku, terasa dingin di kulitku. Kemudian sebuah Fetal Doppler sudah menempel di perutku. Dokter itu menggerakkan alat itu di sekitar perutku seperti sedang mencari sesuatu. Aku paham Dokter itu mencari suara “deg ... deg ... deg! ” suara detak jantung janinku. Tapi aku tak mendengar suara itu. Hatiku mu...

Semerbak Jasmine (Part1)

Jarum jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tertatih aku menuju pintu, kubuka daun pintu. Udara dingin menerpa wajahku. Siapa yang ingin keluar rumah selarut ini, kalau boleh memilih lebih baik tidur di atas ranjang yang empuk berselimutkan bed cover yang hangat. Tapi sakit di perutku menginginkan lain. Kuseret kakiku keluar pintu, kedua kakiku enggan melangkah, seperti tahu persis dinginnya di luar sana. Lagi-lagi perutku kurasakan sakit luar biasa. Akhirnya kupaksakan kakiku menuju becak yang sudah menunggu setia. Harus kuhargai abang becak itu, di tengah malam buta masih mau menarik penumpang, mungkin bukan sekedar upah yang dia harapkan, tapi karena sisi kemanusiannya yang tinggi. Mas Nika memapahku menuju becak yang sudah dipanggilnya setengah jam yang lalu. Kupandangi pohon-pohon jati yang tinggi besar, berjejer di sepanjang jalan yang kami lalui. Dahannya menyerupai tangan, rantingnya menyerupai jari jemarinya, menari-nari tertiup angin malam. Deretan pohon-pohon itu...