Semerbak Jasmine (Part 10)
Pagi-pagi
sekali, Mas Nika sudah siap berangkat ke kantor. Kuperhatikan Mas Nika terlihat
lebih muda dan ganteng. Dahiku mengernyit. “Apa
yang membuatnya beda ya?” tanyaku dalam hati. Pakaian seragam perusahaan
yang rapi seperti biasanya, aku yang menyetrika. Sepatu hitamnya mengkilat
seperti biasanya, aku yang menyemirnya. Kutelusuri wajahnya, mata kecil agak
sipit, hidung mancung cenderung besar, wajahnya putih bersih. Rambut ikalnya
... , oh aku baru menyadarinya rambut ikalnya tidak terlihat karena minyak
rambut merapikannya. “Tumben Mas Nika
pakai minyak rambut?” tanyaku dalam hati lagi. Merasa diperhatikan, Mas
Nika menoleh ke arahku.
“Ada
apa Bun, Ayah ganteng ya?” godanya. Aku pun melengos merasa kepergok
memperhatikannya.
“Tumben
pakai minyak rambut?” tanyaku, sambil menyiumi wangi rambutnya.
“Sekali-kali
boleh dong beda ... “ jawabnya. Matanya mengerling nakal ke arahku. Aku baru
menyadari Mas Nika bisa juga begitu, aku terkekeh. Dia pun berangkat setelah
sarapan nasi goreng kesukaannya. Terlihat bersemangat.
Tak
terasa, waktu sudah merangkak malam. Jam 5 sore Mas Nika menelepon, dia pulang
terlambat karena mengantar temannya ke rumah sakit. Aku pun memakluminya, tanpa
banyak tanya. Aku tertidur di sofa ketika mobil Mas Nika terdengar memasuki
halaman. Kuintip lewat jendela untuk
memastikannya. Cepat-cepat kubuka daun pintu.
“Belum
tidur Bun?” Matanya lurus tanpa menoleh ka arahku.
“Nunggu Ayah pulang, ketiduran di sofa,” jawabku sambil menyodorkan segelas susu hangat.
“Lain
kali tidur aja di kamar, nanti sakit!” ucapnya. Aku perhatikan Mas Nika,
akhir-akhir ini sering pulang malam dengan alasan lembur. Tapi aku
memakluminya, karena jabatan yang diembannya. Setelah bersih-bersih dan
menghabiskan susu hangatnya, dia tertidur. Sementara aku tak bisa terpejam.
Kutorehkan
pena di atas buku diary, tentang perasaan dan kegiatanku hari ini. Tiba-tiba
gawai Mas Nika berbunyi. Kulihat ada notifikasi Whatsapp masuk. Setelah dibuka
ada pesan masuk
dari
nama yang tidak asing lagi bagiku. Dia staff Mas Nika di kantornya. Aku memanggilnya Bu Prili. Enam bulan yang
lalu suaminya meninggal karena kecelakaan motor.
“Mas, terima kasih sudah membantuku
hari ini. Kalau gak ada Mas entah bagaimana kondisi anakku. BTW sudah sampai
rumahkah?” Begitu isi pesannya. Aku tidak merasa heran
jika Mas Nika banyak membantu orang. Tapi sejak kapan Bu Prili memanggil Mas
Nika dengan panggilan ‘Mas’? Tiba-tiba ada yang mengganjal di hatiku.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Duh...
BalasHapusHehe...
Hapus