Semerbak Jasmine (Part 2)


Tempat tidur darurat yang dimaksud perawat ternyata sebuah blankar yang ditempatkan di koridor antara pintu masuk dengan  ruangan bayi, otomatis banyak perawat dan orang-orang yang menunggu pasien lalu lalang di depanku, apalagi tanpa gorden sehelaipun. Tapi aku  merasa nyaman ketika tubuhku direbahkan.

Dokter cantik itu menghampiriku, memeriksa kondisiku, dan meraba perutku.
“Keras sekali!” gumamnya.
“Sudah benar-benar kontraksi!” ujarnya kemudian.
“Sudah bukaan dua!” lanjutnya. Dokter itu menyimpulkan dengan caranya sendiri.
“Pak, bayinya sudah mau lahir, nggak apa-apa banyak bayi prematur yang lahir selamat dan sehat,” hiburnya.

Dokter itu mengoleskan sesuatu di perutku, terasa dingin di kulitku. Kemudian sebuah Fetal Doppler sudah menempel di perutku. Dokter itu menggerakkan alat itu di sekitar perutku seperti sedang mencari sesuatu. Aku paham Dokter itu mencari suara “deg ... deg ... deg!” suara detak jantung janinku. Tapi aku tak mendengar suara itu. Hatiku mulai gusar, Dokter itu pun mengernyitkan alisnya. Kemudian dia mencobanya kembali, suara yang keluar dari alat itu hanya “ng ... ng ... ng!” alisnya makin mengkerut. Aku benar-benar sudah merasa takut. Dokter itu menatapku lekat-lekat, sehingga aku jelas memandang wajah cantiknya.
“Nanti dicoba lagi, mungkin karena sedang kontraksi perut ibu mengeras, jadi alat ini sulit mendeteksinya,” ujarnya pelan.
“Kalau pakai USG bagaimana?” Mas Nika angkat bicara.
“Maaf, kalau sudah malam begini tidak ada fasilitas itu, paling besok pagi,” Perawat menjawab pertanyaan Mas Nika.
“Ibu istirahat aja dulu, sambil menunggu kontraksinya mereda. Nanti saya periksa lagi!” ujar Dokter itu. Sambil menuju mejanya, Dokter itu bertanya pada perawat di sebelahnya.
“Dokter Erine sudah datang?”
“Belum, tadi ditelepon masih di perjalanan.” Perawat menjawab.

Sambil merasakan sakit di perutku, telingaku mendengar erangan ibu-ibu di ruangan itu. Ada yang merajuk minta disuntik supaya tidak mulas, ada yang marah-marah minta  digosok punggungnya, dan wanita di sebelah kananku tertidur pulas dengan kabel oksigen di hidungnya. “Ya, Robb!” aku mengurut dada karena aku juga merasakan sakit di perutku, ditambah kecemasan, kegelisahan yang luar biasa.

Beberapa menit kemudian datang seorang wanita cantik menuju meja dokter sambil memakai jas putih khas dokter. Sepertinya dia yang bernama dr. Erine.
“Maaf terlambat, tiba-tiba ada pasien datang,” ujarnya.
“Dokter Naning, banyak sekali pasiennya?” lanjutnya, sambil memandang deretan tempat tidur yang terisi penuh. Kemudian dokter yang tadi menanganiku yang ternyata bernama dr. Naning berbisik sesuatu pada dr. Erine. Tak lama kemudian dr. Erine menghampiriku.

(Bersambung)

#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung





Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)