Bila Kak Ros Marah
Enaknya berbaring di dadanya. Hangat !. Hembusan nafasnya terdengar lembut, dadanya naik turun, membuatku serasa diayun-ayun. Makin betah saja, enak bobo manja. Aku pun terlena dan tertidur pulas. Tiba-tiba ada suara berisik dari arah pintu, membuat dadaku berdegup kencang, daun telingaku berdiri. Aku tajamkan pendengaran. Benar saja dugaanku, ada yang masuk rumah dengan tergesa dan menghambur ke arahku. Mataku pun membulat mempertajam penglihatan. Tiba-tiba dia merangkulnya erat, menciumi tangan dan pipinya, hingga aku terguling. Dia tak menghiraukanku. Aku pun berlalu dengan sedih. Kubiarkan mereka melepas rindu.
Siang itu udara terasa dingin, air berjatuhan dari langit. Perutku berbunyi minta diisi dan terasa mulas. Kuhampiri tempat makanku, kosong!. Perutku makin melilit. Kuhampiri meja makan, aroma sedap datang dari tudung saji. Tapi aku tak bisa membukanya. Akhirnya aku aduk-aduk tong sampah biasanya ada tulang-tulang, lumayan untuk mengganjal perut. Ngantuk melanda, dan aku terlelap di kursi meja makan.
“Husy...husy...!!! ,” tiba-tiba sapu ijuk mengenaiku. Suaranya tinggi melengking. Entah siapa namanya, aku namakan Kak Ros. Habis galak seperti kakaknya Upin Ipin. Aku juga suka nonton lho... bareng cucu pemilik rumah ini. Aku pun berlalu dengan gontai. Kalau Kak Ros datang, aku merasa tidak nyaman.
Hm...aku rindu pemilik rumah ini, nenek yang baik hati dan menyayangiku. Dia membiarkanku tidur di dadanya, mengelusku dengan tangan kirinya. Karena tangan dan kaki kanannya lumpuh. Suaranya tak jelas. Dia sering berbagi makanan denganku. Tiap hari hanya berbaring, menonton tv denganku. Aku menjadi teman setianya. Kasihan nenek itu, kelihatannya kesepian. Karena itu aku selalu menemaninya. Aku suka dibelanya, jika kakek dan cucunya menyentil telingaku yang panjang.
Aku menghampiri nenek, tergoda dengan makanan yang ada di tangannya. Baru saja aku mau mengendus makanannya, tiba-tiba Kak Ros menyentil telingaku. Aku pun kaget dan loncat. Perutku yang terasa mulas dari tadi, tak tertahankan dan mengeluarkan isinya yang cair dan bau. Kak Ros naik pitam, hingga sapu ijuk mendarat di punggungku. Dan tak bisa ditahan, aku mengeluarkan isi perutku dimana-mana mengenai apapun yang ada. Kak Ros makin geram, aku dibawanya ke kamar mandi. Aku paling takut ke kamar mandi, dan meraung minta keluar. Kak Ros malah menyiram bokongku dengan air. Aku makin meraung. Akhirnya aku keluar kamar mandi dan lari secepat kilat keluar rumah. Sambil sembunyi di teras aku menenangkan diri. Dan aku pun mandi dengan lidahku yang terkenal bersih.
“Mulai sekarang jangan ada kucing lagi, jorok kotor. Puffnya dimana-mana bau, ngendus-ngendus makanan. Iy...bikin penyakitan. “ Suara Kak Ros terdengar tinggi, kelihatannya masih marah. Kak Ros terlihat sibuk membersihkan semua kotoranku. Dari semenjak datang, kerjaaanya sikat-sikat, lap-lap, sapu-sapu. Dan terakhir mencuci semua baju dan lap pel yang terkena kotoranku. Aku jadi sedih, kalau aku tak boleh masuk rumah ini, gak akan bisa menemani nenek dan bermanja-manja lagi.
“ iya...kakek juga ngerasa jijik,” ujar kakek.
Aku tatap wajah nenek dari balik kaca jendela, terlihat murung. Aku akan menunggu di luar saja. Sampai Kak Ros pulang ke rumahnya. Aku kangen belaian nenek.
Komentar
Posting Komentar