Bujangku

EBulan masih menggantung di langit  gelap. Belum waktunya bergeser ke belahan bumi yang lain. Bintang tak satu pun menemaninya. Udara dingin menggigit. Aku menggigil menunggu Bujangku pulang. Tadi sore dia pamit pergi ke rumah temannya. Beberapa hari ini, dia sering pergi sore pulang hampir tengah malam. Sekarang hampir menjelang shubuh, Bujangku belum juga pulang. Akhirnya aku pun masuk rumah, kurasakan sendi-sendi tangan kakiku ngilu. Aku pun tertidur di sofa usang.

Adzan shubuh sudah berlalu. Jarum panjang jam dinding menunjukkan angka 5. Terkejut menyadari kalau pagi sudah menyongsong, jangan-jangan Bujangku mengetuk pintu ketika aku terlelap. Tergesa membuka pintu, Bujangku tak nampak di kursi teras. Tiba-tiba cemas menyeruak. Jantungku berdetak kencang. Sesuatu yang buruk telah terjadi padanya. Naluri ibu selalu peka.

Hingga menjelang tengah malam, Bujangku belum menunjukkan batang hidungnya. Gelisah dan cemas tak jua reda. Tadi pagi, tiga adiknya kubawa serta mencarinya. Kutemui semua teman-temannya, semua menggeleng kepala ketika kutanya dimana dia berada.

Minggu lalu Bujangku minta dibelikan handphone android. Mana bisa aku belikan, untuk makan sehari-hari saja harus berusaha mati-matian dari pagi hingga petang. “Maafkan ibu Nak....” Semenjak ayahnya pergi ke ibu kota dua tahun yang lalu, untuk menjual terompet hasil tangannya sendiri. Dia tak kunjung pulang. Kabar berita pun tak aku terima. Sebenarnya jarak Tanggerang – Jakarta tidaklah jauh. Namun bagiku, ibu kota adalah belantara yang sulit kujelajahi. Suamiku selalu berpindah tempat berdagang, tidur pun dimana saja. Setelah habis dagangannya baru  bisa pulang. Hingga detik ini aku tak bisa menemukannya. Meninggalkan aku dan keempat anaknya. Si Bujang pun terpaksa putus sekolah.

Tiba- tiba gedoran pintu membuyarkan lamunanku.
“Bu...lihat di berita TV, ada si Bujang.” Tetanggaku berteriak dengan tergesa. Bergegas aku mengikutinya. Sudah tiga bulan televisiku rusak. Tak percaya aku menyaksikan Bujangku tersorot kamera, sedang menjarah sebuah toko pakaian di tengah kota bersama segerombolan geng motor. “Bujang...!!!.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)