Cukup Dijalani Saja
Pagi buta ia sudah bersiap menuju rumah majikannya. Ia rela bangun jam tiga pagi, agar bisa membereskan semuanya, maklum ia harus menghidupkan api di tungku untuk menghemat gas. Setelah selesai mencuci baju, mencuci piring, menjerang air dan menanak nasi. Ditinggalkannya setoros kerupuk blek sebagai lauk makan. Suaminya masih tidur, sementara anak-anaknya bersiap berangkat sekolah. Sebelum berangkat, dia menyuapkan sekepal nasi tutug sebagai pengganjal perut. Kemudian menyeruput teh manis hangat yang nyaris tawar, gula di toplesnya tinggal tersisa di sudutnya. Cepat-cepat dia pergi menuju rumah majikannya, tidak lupa menciumi ubun-ubun anak-anaknya. Suaminya dibiarkan terlelap dalam buaian mimpi. Percuma ia bangunkan, hanya makian yang didapat. Lebih baik jangan diganggu tidurnya. Anak-anaknya sedang sarapan dengan lauk seadanya. Anak bungsunya yang masih kelas 1 SD, ia percayakan pada si sulung.
Benar saja dugaannya, majikannya sudah menunggunya di halaman rumah, mukanya cemberut. Ia hanya tertunduk dan meminta maaf karena datang terlambat. Majikan perempuannya seorang pegawai bank swasta. Sudah pasti harus berangkat pagi-pagi sekali kalau tidak mau terlambat, karena macet jalanan selalu menyita waktunya. Tergesa ia memasuki rumah setelah majikannya memberi deretan tugas yang harus ia kerjakan. Walau tugas utamanya menjaga kedua anak majikannya itu, tapi tugas sampingannya harus diselesaikan tepat waktu, sebelum majikan perempuannya sampai di rumah.
Pandangannya ia edarkan ke sekeliling rumah. Kedua anak majikannya masih terlelap. Mainan bertebaran di mana-mana, remah-remah biskuit bercampur mainan, semut-semut berpesta. Dibiarkannya keadaan ruang tv apa adanya. Cepat-cepat menuju kamar mandi, kemudian merendam baju-baju kotor. Kemudian menanak nasi di magicom. Baru kemudian membersihkan dan merapihkan ruang tv. Di tengoknya anak-anak, masih terlelap. Tanpa membuang waktu cepat-cepat menyikat noda baju-baju kotor, kemudian dimasukkan ke mesin cuci. Ia biarkan mesin membereskan tugas mencucinya. Langsung mencuci tumpukan piring. Belum selesai mencuci piring, salah satu anak majikannya bangun, merengek minta makan. Dibuatnya segelas susu dan menggoreng telur. Setelah beres menyuapi, dibiarkan anak itu nonton acara anak di tv. Sementara ia melanjutkan mencuci piring.
“Yur...sayur...,” tukang sayur memanggil para ibu di perumahan itu. Ia teringat pesan majikannya untuk belanja bahan sayur sop. Ia pun bergegas ke halaman, tak lupa menggendong anak bungsu majikannya yang terbangun karena teriakan tukang sayur.
Seharian ia berkutat dengan kedua anak majikannya yang masih balita, memasak, menyetrika baju, cuci piring, bersih-bersih ruangan yang tak pernah rapih. Makan ia lakukan sambil menggendong. Hingga sore tiba, peluh masih terus bercucuran, sudah tidak perduli lagi dengan rambutnya yang acak-acakan. Hingga majikannya datang, baru terbebas dari rentetan tugas-tugasnya. Ia sengaja meminta upah harian. Agar bisa membeli sembako. Apalagi suaminya sedang menganggur. Darimana lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya kalau tidak dari upahnya.
Sambil berjalan gontai, ia tatap upah hari ini. Tiga lembar sepuluh ribuan dan selembar lima ribuan. Ia akan mampir ke warung sembako yang memberi harga lebih miring dari warung lainnya. Dengan upahnya hari ini, ia bisa beli sekilo beras, sebungkus tahu dan kecap beberapa sachet, gula putih seperempat kilo. Sisa upah di tangannya tinggal tujuh ribu, ia simpan untuk bekal sekolah kedua anaknya esok hari. Sebagian untuk lauk sarapan pagi. Masih beruntung anaknya jika bisa makan telur. Satu telur untuk berdua, atau dijadikan nasi goreng. Ia menghela nafas. Tagihan listrik bulan ini belum terbayar. Ia berharap suaminya dapat pekerjaan kembali.
Malam hampir larut, ia pun beranjak ke tempat tidur, setelah menyetrika baju anak-anaknya. Ia tak ingin baju anaknya yang sudah lusuh terlihat kusut. Sementara suaminya belum pulang, entah ada dimana, ia hanya berfikir suaminya sedang berusaha mencari pekerjaan. Ia pandangi kedua anaknya. Ia pun tersenyum bahagia. Kedua anaknya adalah harapannya. Tumpuan hidupnya kelak. Semua kesusahan hidupnya ia terima dengan ihklas. Ia hanya berfikir jalani saja semuanya. Sambil berdo’a ia berharap bahwa kehidupan keluarganya kelak akan berangsur membaik.
#OneDayOnePost
#ODOPBatch5
#Day3
Mantap
BalasHapusMantap apanya Mas?
BalasHapussuka baca ceritanya mba, dibalik beresnya pekerjaan rumah, tak lepas dari peran "mpo" yang bantu2 pekerjaan rumah. Wanita yang juga pejuang bagi keluarganya.
BalasHapusMakasih mba , saya suka perhatiin kalo para art curhat. Hehe
Hapussuka ceritanya :)
BalasHapusTerima kasih mba Festining Tarias.
BalasHapus