Demi Mata Si Ujang
“Husy...husy...,” desisan keras keluar dari mulutnya, diikuti bunyi kaleng-kaleng yang keras dan berisik setelah menarik beberapa utas tali plastik. Suaminya sengaja menyambungkan tali pada ujung kaleng-kaleng, hingga jika tali ditarik keluar bunyi. Burung-burung pun beterbangan sebelum sempat bertengger di ujung batang padi. Bulir-bulir padi yang keemasan sungguh menggoda mereka untuk kembali mencoba keberuntungan. Mata jeli Bu Tani selalu sigap jika ada burung yang nekad mematuk padi. Sementara Pa Tani sedang menyiangi sawah. Gulma-gulma tidak diperkenankannya mengganggu tubuh padi. Bak ayah melindungi anaknya, Pa Tani benar-benar merawatnya dengan sungguh-sungguh.
Pukul sepuluh pagi, waktunya mereka beristirahat. Dibukanya boboko yang berisikan nasi timbel, ikan asin peda bakar, sambal terasi, beberapa potong tempe. Makanan istimewa mereka yang menggugah selera. Dipetiknya lalapan kemangi dan leunca, melengkapi menu makan pagi hampir siang itu. Perut mereka sudah keroncongan. Semenjak sarapan beberapa potong rebus singkong, perutnya belum terisi lagi. Bu Tani menyiapkan air teh dari poci usang yang syarat jelaga. Diletakkannya gelas seng di depan suaminya.
“Mana Si Ujang Ma?, “ mata Pa Tani mencari anak bungsunya.
“ Tadi pergi dengan teman-temannya, mau buat layang-layang katanya. Sebentar lagi kan mau musim kemarau. Nanti dijual layang-layangnya. “ Ujar Bu Tani, sambil menyodorkan sebungkus nasi timbel. Mereka pun makan beralaskan daun pisang dengan nikmatnya. Sesekali Bu Tani menarik tali plastik setelah menyaksikan kenakalan para burung.
Selesai makan, mereka menatap langit yang cerah. Dari arah saung mereka pemandangan gunung berpayung arakan awan sangat memukau. Biasanya mendung menggelayut. Kali ini, matahari nampak tersenyum ke arah mereka. Pa Tani menyulut rokok bako, dan menghirupnya dalam-dalam. Matanya menerawang, diikuti istrinya. Entah apa yang ada di pikiran mereka.
“Bah, si Ujang beberapa bulan lagi harus sekolah. Kalau tak masuk tahun ajaran ini, sudah ketuaan. “ Bu Tani membuka pembicaraan dengan pelan nyaris berbisik. Pa Tani menghentikan hisapan bakonya.
“Iya, Abah juga lagi mikir. Si Ujang harus masuk sekolah tahun ini.”
“Mugi panen sekarang bagus. Pas pisan kemarau datang. Jadi gabah cepat kering, bagus berasnya,” harapnya. Hamparan sawah yang sedang menguning di hadapannya menjadi harapannya. Walau hasil gabah harus berbagi dengan tuan tanah, tetap menjadi tumpuannya. Kadang mereka mendapat hasil sampingan dari menjual cabe rawit yang ditanam di pinggir sawah, apalagi saat harga rawit tinggi. Kadang pula kalau musim menikah, Bu Tani kerap diminta membuat pais bugis dan ulen. Lumayan untuk membeli lauk. Si Ujang jadi bisa makan lebih enak, tidak hanya nasi tutug.
Si Ujang datang menghampiri mereka. Kaki telanjangnya memilih pijakan di pematang sawah dengan lincah. Tangannya menenteng sendal jepit usang. Beberapa buah layang-layang bertengger di pundaknya. Setelah mengucap salam, tangannya langsung meraih poci dan gelas seng. “Glek...glek...” suara kerongkongannya terisi air teh terdengar jelas. Dilap bibirnya dengan punggung tangannya. Kemudian meraih boboko berisi satu bungkus timbel dan lauknya yang sengaja Bu Tani sisihkan.
“Cuci tangan dulu Jang !!!,” Bu Tani mengingatkan. Si Ujang pun mencuci tangan dari air sawah yang mengalir ke sengkedan di bawahnya, seperti air pancuran yang bening. Kemudian makan dengan lahapnya.
“Ema...Ujang mau sekolah, Ujang udah hapal huruf-huruf. Sekolah ya...Ma.” pintanya memohon. Mata bulatnya yang bening menatap lurus Bu Tani. Bu Tani membalas tatapannya dengan berkaca. Senyum Bu Tani mengembang sambil mengangguk. Bu Tani tak pernah tega membuat mata anak bungsunya itu berurai air mata. Ia hanya ingin mata si Ujang selalu berbinar bahagia.
#TantanganKe-2
#TantanganODOP
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
Komentar
Posting Komentar