Mu-Tiara-ku (bagian2)
“Aw...!!!,” kurasakan sakit luar biasa di bawah perutku, ketika pertama siuman. Pandanganku kabur, sakit yang kurasakan membuatku tak bisa apa-apa. Bayangan orang-orang di sekelilingku tidak aku hiraukan. Aku hanya merasakan teramat sakit di bawah perutku, seperti sakit diiris sembilu dengan luka menganga. Pandanganku hanya bisa melotot ke atas, menahan sakit. Mulutku serasa terkunci, ingin aku melafalkan syahadat tapi tak bisa. Mulutku hanya bisa menganga. Aku hanya ingat, mungkin ini akhir hidupku. Tiba-tiba ada seseorang yang menuntunku melafalkan syahadat, aku ikuti dengan terbata. Aku pun meneteskan air mata, di tengah kesakitan luar biasa ada setitik ketenangan. Jika waktunya ruhku terpisah dari jasadku, aku sudah melafakan syahadat.
Aku meminta ibu untuk memperdengarkan ayat-ayat suci Alquran di telingaku. Aku ingin jika Alloh SWT memanggilku dalam keadaan memperdengarkan kalam-Nya. Ibuku menangis, menelepon saudara-saudara untuk mengaji di rumah. Dengan pelan aku meminta maaf pada ibu. Sementara suamiku sedang sibuk menjaga anak-anak. Aku meminta bertemu dengan mereka. Entahlah aku merasa akan mati detik itu juga. Sambil kutahan rasa sakit yang luar biasa.
Beberapa jam aku masih merasakan sakit dan lemah. Melihat kondisiku, Dokter memintaku jangan banyak bergerak sampai harus dikateter. Padahal melihat orang lain yang sama mengalami saecar, tidak separah aku. Aku hanya berdoa agar aku sehat. Bukan aku ingin melawan takdir, kalau boleh aku memohon jangan dulu ambil nyawaku.
Tiba waktunya yang kutunggu, puteri mungilku sudah ada di sampingku. Dalam keadaan lemah dan tangan kiri masih diinfus, aku usap pipinya. Aku bahagia menatapnya. Perjuangan dan rasa sakit melahirkannya terbayar sudah. Puteri kami yang tidak disangka-sangka kehadirannya. Ya...pertama tahu dia hadir dalam rahimku sudah berusia sekitar enam minggu. Karena perhatianku masih pada kakaknya yang berusia delapan bulan. Anugerah yang datangnya tanpa diduga dan direncanakan. Puteriku yang kehadirannya kami anggap sebagai pengganti kakaknya yang sudah diambil kembali Pemiliknya. Kami namakan Kayyisa Tiara Kamila. Kami panggil Tiara. Mutiara hatiku yang menggenapkan rasa bahagia kami.
Setiap hari kelahirannya, pasti teringat detik-detik peristiwa melahirkannya. Aku bersyukur, Alloh SWT memberi kesempatan padaku hidup, merawat dan menyaksikan anak-anakku tumbuh. Mereka adalah sumber bahagia kami di atas kebahagiaan lainnya. Mereka adalah mutiara-mutiara yang tak ternilai bagi kami. Mutiara terindah dalam hidupku dan suamiku.
#OneDayOnePost
#ODOPBatch5
#Day7
Komentar
Posting Komentar