Mu-Tiara-ku (Bagian1)

Waktunya periksa ke bidan. Sudah tiga puluh delapan minggu. Dua minggu yang lalu, kami berdua sehat-sehat saja. Entah kenapa hari ini terasa lelah dan lemas. Mungkin karena anak balitaku yang berusia satu tahun setengah semalaman rewel, hidungnya mampet. Terengah menuju bidan, kakiku capek menopang badanku yang membesar dengan perut maju ke depan.  Jarak ke tempat praktek bidan tidaklah jauh. Ketika badanku menyentuh kursi tunggu, kaki kuluruskan, terasa lebih enak. Aku pun mengatur nafas.

“Bu, tensinya tinggi sekali !. Pusing Bu?,” Bidan Rina menatapku lekat.
“Nggak Bu,” jawabku pendek.
“Mungkin ibu kecapean jalan ke sini. Istirahat aja dulu Bu,” sambil mempersilahkanku tidur di ranjang periksa. Kami pun ngobrol santai ngaler ngidul. Aku pun merasa lebih rilek.
“Hm..Bu, tensinya sampai 200 begini. Ibu harus dirawat di rumah sakit !!!,” air muka Bu bidan berubah khawatir,  sambil membuat surat rujukan. Aku pun was-was.

Cepat-cepat kubereskan baju seperlunya. Kutatap baju-baju bayi, “sebaiknya aku bawa serta saja, kalau-kalau aku harus melahirkan.”
Kutelepon suamiku agar pulang secepatnya. Kutatap si sulung  dan anak keduaku. “Hm...mereka sama siapa, kalau ibunya harus dirawat?.” Pikirku keras.

Akhirnya aku dan suamiku datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali, setelah anak dititip ke asisten rumah tangga. Kuminta untuk menginap menjaga anak-anak.
Ternyata antrian sudah memanjang di depan poli Dokter Spesialis Kandungan  rumah sakit daerah yang kami pilih. Dan dokter memutuskan rawat inap. Takut dan khawatir menambah kegelisahanku. Pikiranku terus berputar, tak bisa tenang dan rilek, emosiku meledak-ledak, hingga aku sulit untuk tidur. Akibatnya tekanan darahku makin tinggi. Akhirnya Dokter memutuskan Saecar secepatnya. Karena membahayakan aku dan janin.

Tiba di ruang operasi, aku semakin takut dan gelisah. Dokter pun tak bisa cepat melakukan saecar, menghindari pendarahan. Mereka menunggu tekanan darahku menurun. Berada dalam ruang tunggu bersama orang-orang yang menunggu giliran operasi, membuatku merasa sendiri. Suami tidak diperbolehkan masuk. Aku menangis, aku menguatkan diri sendiri. Akhirnya aku merasa pasrah.

Lampu operasi sudah menyala di hadapanku. Aku terlentang pasrah dengan berbagai infusan di tanganku. Semakin waktu cepat berlalu aku menjadi stres dan meracau. Dokter anastesi membujukku untuk tenang dan berdoa. Aku istigfar dan kulantunkan syahadat. Aku pasrah jika Alloh memanggilku ketika berjuang menjalani saecar. Dalam hitungan detik, aku sudah tidak ingat apa-apa.

#OneDayOnePost
#ODOPBatch5
#Day6

  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)