Gara-Gara Si Hitam Berbulu
"Iyy...iyy...,” isteriku menjerit histeris. Tubuhnya seperti cacing kepanasan. Kemudian lari menubrukku.
“Ada apa Mih?!,” aku pun kaget dibuatnya.
“Itu...Pih !!!,” telunjuknya lurus ke arah deretan tanaman hias dalam pot, sambil mengekor di belakangku. Kuikuti arah telunjuknya. Oh...ternyata ada seekor ulat Beringin sebesar telunjuk orang dewasa. Belang hitam putih tidak berbulu. Pantesan bergaya cacing disko, lha ulat petai sebesar butir nasi saja, lari blingsatan.
“Udah...ulatnya udah Papih buang. Lanjutin lagi nata tamannya ,” pintaku.
“Ogah...!!!, jadi gak mut,” jawabnya bergidik.
Lain hari lagi, isteriku melempar tampah berisi kerupuk yang akan dijemur. Gara-gara ulat bulu sebesar ibu jari jatuh dari langit-langit tepat di hadapannya. Kerupuk berhamburan, dan tak mau membereskannya lagi. Malah menutupi tubuhnya dengan selimut. Aku hanya geleng-geleng kepala menyaksikan tingkah isteriku.
Begitu takutnya isteriku pada serangga yang satu itu. Cicak, kecoa, tikus, dengan mudah dia tangkap. Tetapi kalau sudah berhadapan dengan namanya si ulat, dia cepat-cepat mengibarkan bendera putih. Mana bisa menang, berhadapan saja sudah blingsatan. Apalagi musim hujan begini, seperti panen ulat saja. Aksi histerisnya jadi keseringan.
Tengah hari saat jam istirahat di kantor, isteriku menelpon panik.
“ Pih...ada ulat bulu gede banget, hitam coklat. Bulunya panjang-panjang. Iyy..Kok bisa di tengah rumah sich..huhu , “ isteriku benar-benar panik sambil menangis.
“Itu...jalannya cepet lagi, Pih... !!!,” suaranya melengking. Aku coba menenangkannya.
“Minta tetangga buangin tuh ulet !!!, “ perintahku.
“ Malu dong Pih, masa buang ulet aja minta tolong tetangga...,” nadanya merajuk.
“Ya udah, buang sendiri aja. Sama Papih dipandu,” ujarku terkekeh.
Aku beri langkah-langkah sekaligus tips-tips membuang ulat. Aku bayangkan dia merem melek sambil bergidik menyapu ulat ke dalam pengki. Membayangkannya malah jadi lucu. Aku pun mesem-mesem sendiri. Tak lama dia sudah menelpon lagi.
“ Sudah Pih, Mamih buang ke parit,” nafasnya terengah.
“Mamih sampe panas dingin begini, langsung gatel-gatel !!!, “ terdengar jelas dia menggaruk kulitnya.
“ Kok dibuang ke parit, bukannya dimatiin, nanti uletnya datang lagi. Kangen sama Mamih ,” godaku.
Terdengar lengkingan khasnya di ujung telepon.
“Papih...!!!.”
#Day9
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
Ceritanya ngalir. Ringann
BalasHapusMakasih Mba. Mencoba cerita dari sudut pandang suami
Hapus