Terminal Bis
Panas langsung menyengat kulitku. Rambut panjangku sudah tidak beraturan. Debu ber campur keringat membuat rambutku terasa gimbal. Gatal menambah kegelisahanku. Sudah hampir satu jam aku mematung di trotoar terminal bis ini. Tempat tunggu yang teduh penuh sesak. Lalu lalang orang-orang naik dan turun bis, teriakan kondektur, calo-calo dan preman, menjadi pemandangan satu-satunya. Pengamen waria di sampingku menyanyikan lagu dangdut dengan keras, bersaing dengan suara calo menawarkan bis padaku dan calon penumpang lainnya. Badannya meliuk-liuk ala ratu ngebor, diiringi musik yang memekakkan telinga dari tape yang digantungkan di lehernya. Suasana menjadi tidak karuan. Aku beri uang recehan. “Makasih...cantik...,” ucapnya mengerling, suaranya persis laki-laki tulen. Membuat alisku terangkat. Mataku kembali sibuk mencari sesosok tubuh tinggi tegap diantara kerumunan orang. Aku lirik notifikasi ponsel, tak ada pesan atau telepon masuk. Pandanganku kembali pada hiruk pikuk orang-orang. Kusisir kembali setiap sudut terminal. Gelisah langsung merayapiku. “ Lupakah ia?, “ gamang menguasai hatiku. Kesekian kalinya aku membuka kembali whatsappku. Kubaca lagi percakapan dengannya. Tidak ada yang keliru, dahiku mengernyit.
Kepulanganku ke kampung halaman kali ini, disambut riang orang tuaku. Aku akan mempersembahkan ijazah yan mereka harapkan selama bertahun-tahun. Dan yang gak kalah penting, membuat hati mereka berbunga-bunga adalah calon menantu yang akan kubawa serta. Dia laki-laki pilihanku. Teman kampus yang selalu membantuku menyelesaikan skripsiku. Selalu ada di saat aku bingung dan galau beberapa bulan terakhir ini . Pandangan matanya yang tajam tapi meneduhkan itu, tak kuasa aku tolak. Hingga akhirnya dia ingin bertemu dengan orang tuaku dan berencana meminangku. Aku pun menjawabnya dengan anggukan bahagia.
Kakiku menapaki trotoar menuju toilet. Mataku ikut menekuri setiap incinya. Aku berharap ada suara tegasnya memanggil namaku. Walau di tengah keramaian, dengan suara bising, aku mampu mengenal suaranya. Hingga aku kembali ke tempat semula, suara yang kurindukan itu tak terdengar.
“Neng...beri sedekahnya,” suara pengemis mengagetkanku. Seorang laki-laki muda menyodorkan tangannya. Sementara tubuhnya duduk, rupanya dia menghampiriku dengan mengesot. Kutatap bagian kakinya. Ada luka menganga merah dan putih, seperti darah bercampur nanah. Tapi setelah kuamati, luka itu seperti sengaja dibuat. Aku tinggalkan pemuda sehat itu.
Bis yang akan membawaku pulang akhirnya tiba. Dengan gontai aku langkahkan kakiku. Untuk terakhir kalinya aku sisir kembali setiap sudut terminal ini. Tak ada sosoknya yang aku tunggu selama dua jam. Aku hempaskan tubuhku di kursi bis. Pandanganku kualihkan keluar kaca jendela. Kutatap kerumunan orang dengan nanar. Kubuka whatsapp, terakhir dia aktif seperempat jam yang lalu, tanpa membaca pesanku. Sekali lagi aku meneleponnya, hanya nada dering. Akhirnya aku pasrah ketika bis melaju lambat meninggalkan terminal.
“Mas, aku sudah berangkat....” Kutatap layar ponsel, berharap tanda centang dua di pesan terakhir whatsappku berubah warna menjadi hijau.
#Tulisanharike-2
#OneDayOnePost
#ODOPBatch5
Komentar
Posting Komentar