Anakku Harus Pintar


Pukul tiga dini hari, kelopak mataku sudah terbiasa membuka sendiri tanpa dipaksa. Walau kantuk masih menggelayut di bola mataku. Tubuhku refleks terbangun dari tempat tidur yang menurutku ternyaman di dunia. Cepat-cepat aku menuju ruangan bilik bambu. Ruangan tambahan di belakang rumah. Aku ambil beberapa potong kayu bakar  dan  menghidupkan api di tungku perapian. Setelah asap api hilang berganti bara api yang panas. Aku meletakan panci berisi air di atasnya. Siap-siap menuju sumur di luar rumah,  dengan tangan syarat ember-ember yang penuh baju dan piring gelas kotor.
    
Pukul enam pagi pekerjaan rumah sudah selesai. Anak-anak sudah siap berangkat sekolah. Sementara bapaknya sudah menghilang dari subuh tadi mengantar ibu-ibu ke pasar dengan motornya.  Aku pun bersiap mengantar mereka. Si Sulung menenteng termos berisi es lilin buatannya sendiri. Beruntung sekali ada orang yang berbaik hati memberikan lemari es bekasnya yang layak pakai.  Si Sulung pun  bersemangat berjualan es lilin.
"Uangnya buat jajan ya Mah, sisanya ditabung,” ujar Si Sulung riang. Aku hanya tersenyum dengan anggukan setuju.
      
Suasana sekolah sudah ramai. Kain panjang terbentang di depan kelas, penuh tulisan yang tidak bisa aku baca, hanya beberapa huruf yang aku kenal. Biasanya aku menanyakan pada Si Bungsu yang baru kelas dua,  apa isi tulisan kain panjang tersebut. Aku hanya merasakan bangku sekolah satu tahun saja, belum sempat bisa membaca.
“Buat apa sekolah, perempuan mah nanti juga di depan tungku."  Begitu Bapakku bilang puluhan tahun yang lalu.
“Tidak untuk anakku !. Mereka harus pintar, harus sekolah.” Si Sulung selalu juara kelas, sering jadi perwakilan lomba dari sekolah. Aku daftarkan kursus Bahasa Inggris, biar dia bisa  cas cis cus dengan orang bule. Si Bungsu baru-baru ini menjadi wakil lomba matematika antar sekolah.  Aku bangga memiliki mereka, harapanku ada pada mereka.  
    
Setelah menatap mereka sepuasnya dan menghilang masuk kelas, aku pun berlalu. Bersiap naik angkot menuju rumah para ibu yang membutuhkan tenagaku. Mereka menamaiku Asisten Rumah Tangga.

#ODOPBatch5
#OneDayOnePost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)