Hanya Doa


Rasa perih tepat di hatinya yang terdalam, membawa kakinya melangkah pergi. Tidak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut suaminya barusan. Kakinya terasa mengambang, tatapannya nanar, langkahnya limbung. Tertatih menaiki mobil angkutan kota menuju terminal bis. Sepanjang jalan air matanya keluar deras, walau tissue menyapunya berkali-kali. Hidung merahnya terasa pengap, sepengap hatinya.  Tak perduli dengan orang-orang di sekitarnya yang memperhatikannya.

Marinah sudah duduk di dalam bis, menatap keluar jendela. Pohon-pohon yang mengajaknya berlari, sawah-sawah yang membentang luas tak menjadi perhatiannya lagi. Ingatannya terus pada kejadian tadi. Tetap tak percaya.
" Mau apa kamu datang kesini. Gak usah datang lagi ke sini ... !!! Pulang sana ... !!!" Hardikan suaminya mengagetkannya, padahal kakinya baru saja memasuki halaman rumah kontrakan suaminya. Pekerjaan suaminya mengharuskannya terpisah darinya dan anak-anak. Dan mengontrak sebuah rumah. Setiap sebulan sekali dia dan anak-anaknya mengunjungi rumah itu. Semua baik-baik saja. Hingga beberapa bulan silam, Marinah menangkap gejala aneh dari suaminya. Perhatiannya tak lagi tercurah padanya dan anak-anak. Sikapnya berubah 180 derajat.

Malam itu, Marinah masih mengingatnya ketika dirinya mengkonfirmasi semua desas desus teman sekantornya, termasuk kecurigaan keluarga dan tetangga rumahnya. Bahwa suaminya sering mengunjungi rumah seorang janda di kampung tetangga. Rasa  percaya akan suaminya,  membuatnya tegar menghadapi desas- desus tersebut. Dan jawaban suaminya sungguh di luar dugaan.
"Ya Mah, Papah sudah menikah lagi. Dia teman Papah waktu SD," ujarnya ringan.
Duar .... !!!”  Suara gelegar ucapan suaminya menghantam otak dan pikirannya, menghunus tepat di  jantung hatinya. Marinah hanya menganga tak percaya. Tak dapat berkata apa-apa. Tubuhnya lemas tak berdaya. Amarahnya yang terpendam tak dapat keluar. Sementara suaminya berlalu sambil menenteng tas bajunya. Deru mobilnya membawanya pergi, hingga lama tak kembali.

Air mata Marinah mengalir deras kembali. Suaminya yang penuh kasih, bertanggung jawab, mendidiknya dengan agama yang baik, sanggup berbuat seperti itu. Dia sengaja mengunjungi rumah itu untuk menuntaskan permasalahan yang dihadapi mereka. Walau anak-anak melarangnya pergi. Tapi tekadnya untuk menperbaiki semuanya dari awal lagi, tak ditanggapi suaminya. Dia sudah terbutakan cinta pertamanya dulu. Pertemuan tak sengaja dengan cinta pertamanya, mengubah semuanya. Meninggalkan lara bagi Marinah dan anak-anaknya. Hingga bis itu membawanya menuju tempat tinggal dimana anak-anak menantinya, air matanya tak lelah bercucuran.

Beberapa tahun berlalu, Marinah tetap bertahan dengan kondisinya, tak ingin meninggalkan suaminya. Entah alasannya cinta , atau bertahan demi anak-anaknya. Hingga akhirnya,  laranya tak jadi lagi beban hatinya. Anak-anaknyalah yang menjadikannya kuat. Melihat mereka tumbuh menjadi pelipur lara. Harapan suatu saat suaminya akan kembali padanya tetap terpatri dalam hatinya. Dia tidak mengindahkan omongan orang, bahwa suaminya diguna-guna wanita itu dan cara mengobatinya dengan cara yang sama. Dia hanya percaya yang membolak-balikan hati suaminya hanyalah Alloh SWT semata. Dan  mengembalikan semuanya pada-Nya.

Setiap di sepertiga malam, Marinah bersimpuh. Do'a yang tak luput keluar dari bibirnya adalah suaminya kembali padanya dan anak-anak. Berpeluk mesra kembali seperti dulu.

#ODOPBatch5
#OneDayOnePost

Komentar

  1. Huhuhu jd pengen nangis mba...
    Ada kawan yang hampir sama kayak ini ...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, banyak kisah serupa begini. Tapi mereka hebat, bisa bertahan demi anak,-anaknya.

      Hapus
  2. Huhuhu jd pengen nangis mba...
    Ada kawan yang hampir sama kayak ini ...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)