Home Sweet Home
“Aku dua rius!!!” Komentarnya tegas ketika kuungkapkan ada seseorang yang serius padaku. Kupandangi jari telunjuk dan jari tengahnya bergandengan, mengacung ke arahku. Kualihkan pandanganku lurus pada matanya. Ada degup tak beraturan ketika mataku beradu dengan mata teduhnya. Tak bisa kualihkan lagi, aku terpaku. Jadilah dia yang selalu mengisi hatiku.
Tiba saatnya kami dalam naungan ridho-Nya. Bulan maduku tidak di Bali, tidak juga di Singapore, tidak juga di objek wisata yang menawarkan pelayanan jempol bagi sepasang pengantin baru. Aku berbulan madu di sebuah rumah di pinggir bukit. Jalanan sekitar bukit, lengang dan teduh. Pohon-pohon jati tinggi besar menaungi rumah di sekitarnya. Jika pagi tiba, sejuk menebarkan kesegaran. Berdua menyusuri jalan setiap pagi, sekedar jalan pagi dan mencari sarapan sederhana. Surabi menjadi sasaran sarapan pagi yang paling kami cari. Kami lalui bulan pertama pernikahan dengan berbunga.
Masih di rumah pinggir bukit. Kami memulainya dari nol. Bermodal hanya beberapa juta rupiah, berdirilah warung sembako yang lumayan lengkap. Pada saat itu, warung kami lumayan menghasilkan, cukup memenuhi kebutuhan kami berdua. Di rumah itulah kami belajar menjalani sebuah rumah tangga.
Beberapa bulan berlalu, buah hati yang kami tunggu belum juga hadir. Resah mulai menggelayut di hati kami. Orang tua kami sudah tak sabar menimang cucu. Tapi kami coba melaluinya dengan santai. Berusaha dan berdoa, agar ia ada dalam rahimku.
Dengan ijin-Nya, hadirlah ia diantara kami, bayi laki-laki mungil. Perasaan bahagia membuncah di hati kami. Walau semakin hari kian berat kebutuhan yang harus dipenuhi. Tapi kehadirannya menghibur kegalauan kami. Kami rasakan ikatan batin semakin kuat. Kami harus kuat menghadapi segala kondisi. Walau dalam menjalaninya penuh gejolak, kami bisa mengatasinya.
Delapan belas tahun berlalu, kupandang rumah pinggir bukit itu penuh kenangan. Di sana suka duka bergantian, menghiasi romantika hidup. Beberapa episode bahagia mengajarkan kami untuk bersyukur. Dan beberapa episode kesedihan yang menyesakkan dada, mengajarkan keikhlasan dan kesabaran. Selama kami bersama dan bergandeng tangan, kami merasa kuat.
Kupandangi tiga anak-anak kami, anugerah paling berharga. Mereka tumbuh sehat dan aktif. Kutatap mata teduh lelaki yang menjadi bagian hidupku. Seorang lelaki pemberani, pekerja keras, bertanggung jawab, penyayang keluarga. Aku bersyukur memiliki mereka. Ketika berkumpul, warna warni bahagia melingkupi kami.
Kini kami tidak lagi tinggal di rumah pinggir bukit. Menempati rumah sendiri yang menentramkan. Perjalanan delapan belas tahun yang penuh peristiwa, kami lalui selalu bersama. Dan naungan rumah ini, menjadi tempat saling berbagi suka dan duka. Hingga sampai pada titik ini, kami bersyukur tak terhingga. Semoga rasa syukur selalu tertanam indah di hati kami.
#Day21
#ODOP5
#OneDayOnePost
Wahh keren ceritanyaaa..
BalasHapusMakasih mba...perjalanan singkat ttg keluarga kecilku. Kalau dipanjangkan ceritanya bisa lebih dari saty buku hehe
Hapus