Sesal Anakmu

Bergegas memasuki halaman rumah. Satu jam lagi Bapakku akan Sholat Jumat. Aku harus tiba tepat waktu, untuk menjaga ibu sementara Bapak pergi ke mesjid. Menyaksikan mereka yang sudah menua, hati ini khawatir. Bukan menolak takdir, setiap orang akan menua termasuk aku. Tapi karena ibuku terkena stroke sudah tiga tahun ini. Sehari-hari ditemani bapakku, yang mulai merasakan keluhan tua. Sementara aku sudah berkeluarga dan tinggal bersama suami di kota yang berbeda. Walau jarak tidak terlalu jauh, tapi tidak mungkin untuk pulang pergi tiap beberapa hari menengok dan merawat mereka. Sebisa mungkin seminggu sekali mendatangi rumah penuh kenangan itu. Aku pun harus mengurus dan merawat keluargaku.

Sebenarnya, kami meminta bantuan asisten rumah tangga untuk memandikan dan mengganti popok ibu, dan pekerjaan rumah tangga lainnya. Tapi kadang dia berhalangan datang, seperti hari ini. Dan adikku yang tinggal serumah dengan mereka, sibuk bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.

Tiba di depan pintu, langsung menerobos masuk sambil mengucap salam. Ibu langsung menyambutku dengan tangisan khasnya. Rindu menyeruak, ketika ku dekap tubuhnya yang ringkih.  Dan bapakku sudah siap menuju masjid. Kekhawatirannya mereda setelah aku sudah ada di hadapannya. Kalau aku tidak datang bapak tidak bisa sholat Jumat. Aku pun meminta maaf, karena tidak bisa datang lebih awal, ada urusan penting yang harus diselesaikan.

Aku suapi ibu dengan bubur lemu yang lembut. Tinggal beberapa suap lagi, ibu meminta menyudahinya. Aku sodorkan air minum.  Adzan berkumandang, ibu memberi isyarat untuk mengganti popoknya. Stroke membuat ibu tidak bisa bicara jelas, sebelah kanan tubuhnya lumpuh. Masih beruntung ibu masih bisa duduk. Kemudian sholat sambil duduk. Aku perhatikan ibu dari kejauhan. Walau Sholatnya tidak sempurna, semoga Alloh menerima setiap ibadahnya.

Aku coba supaya ibu menulis di kertas, agar mudah berkomunikasi. Tapi yang ia tulis, ternyata apa yang ia ucapkan. Kosa katanya tidak dimengerti. Begitu pun kosa kata tulisannya. Akhirnya cukup isyarat saja gaya komunikasi kami. Aku rindu suara jelas ibu. Dan kudengar terakhir kali, tiga tahun silam.
“Teh, Mamah sakit...,” lirihnya. Setelah itu keadaan ibu memburuk dan akhirnya stroke menyerang. Sesal hingga sekarang menggunung di hatiku. Aku tidak cepat-cepat datang merawat ibu. Waktu itu pun aku sakit, gejala typus hingga aku tak bisa bangun.

Adzan Ashar sudah setengah jam lalu berkumandang, aku sudah bersiap-siap untuk pulang. Aku harus cepat-cepat tiba di rumah, anak-anakku tak ada yang menjaga. Kutatap mata ibu yang memerah. Aku paham, aku menemaninya hanya beberapa jam saja. Dan kupandang wajah Bapa yang semakin kuyu, putih memenuhi seluruh rambutnya. Raut wajahnya terlihat menyesal, harapannya aku lebih lama menemani mereka. Maafkan anakmu ini ibu...bapak.  Aku pun pamit dengan hati pilu, langkahku gontai. Anak-anakku menantiku.

#Day14
#ODOP5
#OneDayOnePost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)