Si Emak Abu Gosok


"Nyeng, Emak ikuts dzudzuk yah ...." Suara parau dan bergetar terdengar mendekat. Aku pun bangkit dari tempat tidur meninggalkan bayiku yang sudah terlelap.
"Ya, mangga ... ," jawabku singkat. Tanpa memastikan siapa pemilik suara itu,  aku sudah bisa menebak. Suara dengan artikulasi tidak jelas seperti itu menunjukkan kalau pemiliknya sudah tidak bergigi lagi alias ompong. Siapa lagi kalau bukan Si Emak penjual abu gosok.

Aku pun menghampiri dan duduk di hadapannya. Kulihat wajah keriputnya yang nampak kelelahan, bulir-bulir peluh menetes di pelipisnya. Cepat-cepat aku mengambil segelas air putih dan menyambar  kue donat di atas meja.
"Emak, cape ya ... siang begini belum nyampe rumah?" tanyaku.
"Beyum Nyeng, baru laku sedjikits!” jawabnya. Sambil menunjukkan setengah kantong plastik kresek besar abu gosok. Biasanya dia menggendongnya dengan kain sinjang di belakang punggungnya yang sudah bongkok, sambil menyusuri jalan dan menawarkan abu gosok kepada siapa saja yang ditemuinya.
"Ini buats Emak?” tanyanya. Kemudian tangan kecil dan keriputnya mengambil segelas air dan meneguknya perlahan.
"Ayo ... Mak sekalian makan donatnya." Aku menyodorkan sepiring kecil kue donat ke hadapannya.
"Teyima  kaciih Nyeng, baik cama Emak." Matanya menatapku dengan teduh, ada embun di sudut matanya. Dia pun mengambil sepotong kue dan memakannya sedikit demi sedikit dengan susah payah. Aku menatapnya iba. Seharusnya diusianya yang sudah renta, cukup tinggal di rumah dan dirawat anak cucu,  tak perlu banting tulang seperti itu. Kemana anak cucunya?

Setiap hari Si Emak penjual abu gosok selalu bertandang di teras warungku. Dan menjadikannya tempat melepas lelah sementara, sebelum melanjutkan perjalanan menuju rumahnya yang lumayan jauh dari tempatku. Melihat kondisi fisiknya yang sudah tua renta dan tinggal seorang diri, aku merasa penasaran dengan keadaannya. Dan kudapat info bahwa usianya ditaksir lebih dari seratus tahun, tidak ada penduduk di desaku yang seusia dengannya. Dan anak cucunya semua mengembara. Ada seorang anaknya yang paling dekat dari desa, tinggal di kota dan hidup berkecukupan. Kenapa tidak ikut dengannya ?

Pagi-pagi sekali Si Emak sudah ada di warungku, menenteng satu kantung keresek lumayan besar dengan susah payah. Kemudian dia mengeluarkan isinya. Ada beberapa kaleng susu kental manis, sarden dan kornet kemasan, beberapa bungkus biskuit. Aku pun terheran-heran.
"Nyeng, ini mau Emak jual ke Nyeng, kemayin cucu Emak nyengok. Tapi da Emak mah gak cuka!" katanya. Aku hanya melongo sambil mengangguk, tanpa disadari aku menyetujuinya. Naluri keingintahuanku muncul. Aku bertanya seputar anaknya. Akhirnya Si  Emak mau  bercerita. Sebenarnya anak cucunya ada yang sukses. Beberapa kali memintanya untuk tinggal bersama mereka.
"Emak mah gak mau kemanya-manya, gak mau ngeyepotin anyak-anyak. Dari duyu waktcu Abah ada, Emak mah dicinih!" Seperti tahu pertanyaan yang ada di pikiranku, Si Emak menuturkan isi hatinya. Oo ... begitu? aku jadi teringat nenek buyutku di kampung, yang bersikeras tak mau meninggalkan kampung halamannya.

Sudah seminggu berlalu, tak terdengar suara parau Si Emak menawarkan abu gosoknya. Begitupun sosok rentanya tak kudapati di teras warungku setiap siang hari. Tak disadari aku merasa kehilangan. Akhirnya kudapat kabar bahwa Si Emak sakit keras. Susah payah keluarganya membujuknya untuk berobat di kota. "Tinggallah bersama orang-orang yang menyayangimu Mak. Mereka akan merasa  bahagia merawatmu, sebagai baktinya padamu yang telah melahirkannya. Semoga engkau bahagia, " lirihku. Pertemuan seminggu yang lalu dengannya rupanya pertemuan yang terakhir kalinya. Tak kudapati lagi suara dan sosok rentanya lagi.
     
"Abu gosok ... vim ... abu gosok ... vim!" Suara lantang dan keras membangunkan bayiku. Kutengok keluar, seorang pemuda membawa dua karung besar abu gosok di depan dan belakang tubuhnya dengan menggunakan penopang kayu. Aku jadi teringat  Si Emak. Akhirnya aku membelinya, walau tidak memerlukannya. Tapi suatu saat pasti perlu pikirku. Salah satunya untuk menutupi kotoran ayam yang bertaburan di halaman rumah sebelum dibersihkan. Hm...sekarang ayam-ayam selalu bertandang di warungku, ada yang menarik perhatiannya, beras daganganku.

Berbagai peristiwa terjadi di depan warungku. Baik sedih maupun duka. Warungku ternyata banyak memberiku cerita. Cerita Si Emak penjual abu gosok tak akan lekang dari ingatanku.

#ODOPBatch5
#OneDayOnePost

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)