Ujian Sakit

Mata sembabnya masih bersimbah air mata. Suaranya melengking nyaris meraung-raung. Aku hanya bisa menatapnya iba, tidak berkutik. Tangan kirinya mengusap- usap pipi kanannya.  Tangan yang lainnya hanya terkulai lunglai, pasrah digeser kesana kemari. Sambil bicara meracau, jemari kurusnya menunjuk sebuah kotak obat. Nada menghiba meminta kapsul kuning yang ada dalam kotak obat tersebut. Kapsul itu yang dirasanya dapat meredakan sakit di pipinya, tepatnya di bagian kanan kepala. Rupanya penyumbatan pembuluh darah di bagian kepalanya membuatnya nyeri tak terperi. Dan menjadikannya lumpuh sebelah tubuhnya, dan bicaranya yang tak jelas.

Aku mencoba membujuknya untuk tidak meminum kapsul kuning itu lagi untuk hari ini. Tidak boleh melebihi batas dosisnya. Dan akhirnya aku terdiam setelah mendengar  bentakan tak jelasnya, aku artikan bahwa aku tak bisa merasakan penderitaannya. Aku hanya bisa menatapnya dengan rasa iba yang sangat dalam. Embun di sudut mataku mewakili perasaanku, bahwa aku mengerti penderitaannya walau tak bisa merasakan.

" Mah, bersabarlah! Mama sedang diuji dengan sakitmu, kita semua, bahkan orang lain pun," lirihku. Akhirnya dia tertidur, mungkin capek menangis, rasa sakitnya tak dirasakannya lagi. Aku menghela nafas panjang. Tak menyangka Mama yang begitu menjaga makanan setelah diketahui menderita Hypertensi dan Diabetes, bisa terkena Stroke. Tubuhnya yang dulu gemuk sekarang kurus dan ringkih.

Semua berubah semenjak Mama Stroke. Rumah dan isinya terlihat kusam dan dingin. Ayah dan kami, anak-anaknya tak lagi bergairah. Semua aktivitas rumah tangga jadi terhambat. Tidak lagi tercium arom sedap dari dapur kami. Apalagi saat Hari Raya tiba. Opor dan sambal goreng kentangnya sangat kami rindukan. Dan aku sangat kehilangan cerita dan pengalamannya waktu muda dulu. Hanya tangisan yang aku temui. Setiap aku mandikan dan kubersihkan kotorannya, Mama selalu menangis. Aku hanya bisa membesarkan hatinya, walau sudut mataku ikut berair. Keluarga kami berubah menjadi sendu.

Hidup harus berjalan terus. Kami harus menerima dengan ikhlas dan tulus. Semua bakti kami tak sebanding dengan  cinta, kasih sayang, dan pengorbanannya.
Semoga sakitmu menjadi penggugur dosa. Dan Alloh SWT meringankan segala sakit dan  mengangkat penyakitmu. Aamiin YRA.”  Doaku selalu menutup setiap sujudku.

#ODOPBatch5
#OneDayOnePost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)