Nenek
Pagi-pagi sudah kujemput neneknya anak-anak. Biar enggak panas di perjalanan. Nenek gampang pusing, apalagi penyakit stroke sudah dirasakannya tiga tahun belakangan ini. Badannya lemah dan ringkih.
Sebelum dzhuhur, kami sudah ada di rumahku. Wellcome GrandMa...
Hari pertama begitu indah, Nenek sumringah berada di rumahku. Berkumpul dengan cucu-cucunya. Kubuat senyaman mungkin agar Nenek betah. Dan aku senang melihat Nenek cerah ceria.
Pagi-pagi, sebelum anak-anak berangkat sekolah, Nenek sudah aku bersihkan. Ia semangat jalan-jalan pagi dengan kursi rodanya, tentunya Kakek yang mendorongnya. Selalu berdua layaknya sepasang kekasih usia muda. Aku hanya tersenyum melihat mereka beriringan. Entah kalau beberapa jam kemudian, biasanya keributan kecil mewarnai mereka.
Nenek minta berbaring di depan TV, kami turuti agar tidak bosan di kamar terus. Entah Kakek bicara apa, Nenek menangis. Lama-lama tangisannya semakin kencang, telunjuknya lurus ke arah pintu luar. Selidik punya selidik, dengan cara komunikasi ala bahasa isyarat, ternyata Nenek minta pulang. Aku hanya geleng-geleng kepala. Rupanya sangkaan Nenek, aku membawanya hanya berlibur saja. Padahal rencananya selama mungkin, mengingat tak ada orang yang mengurusnya.
Raungan keras Nenek membuat hatiku gusar. Beberapa kali aku dan Kakek bergantian membujuk. Tangis dan raungannya makin keras. Perilaku Nenek balik lagi ke masa kecil, aku memakluminya. Akhirnya karena capek, Nenek tertidur. Aku tatap wajahnya. Nenek yang begitu keibuan berbalik 180 derajat. Ada saja hal yang menguji kesabaran kita. Aku sadar, begitulah aku waktu kecil. Selalu membuat Nenek kesal. Mengingat itu semua, aku hanya tersenyum. Semoga aku sabar menghadapinya. Akan kulakukan apa saja agar Nenek nyaman di rumahku.
Komentar
Posting Komentar