Semerbak Jasmine (Part 11)
Sepiring
nasi goreng masih mengepul di hadapannya. Segelas lemon tea plus madu hangat
melengkapi sarapannya. Mata Mas Nika masih menekuri gawainya.
“Yah,
sarapan dulu mumpung hangat!” tegurku.
“Oh
ya!” jawabnya pendek. Disimpannya gawainya, langsung menyantap sarapannya tanpa
melirikku sama sekali. Belakangan ini sikapnya berubah. Aku maklumi, dia telah
mendapat promosi di posisi yang menguras tenaga dan pikirannya. Tapi aku merasa
kehilangan Mas Nikaku yang hangat. Awalnya aku tidak ambil pusing, tapi pesan
Whatsapp semalam cukup mengusikku untuk bertanya.
“Yah,
anaknya Bu Prili kenapa? Ayah mengantarnya ke rumah sakit?” tanyaku hati-hati.
Suapannya terhenti, matanya lurus ke arahku. Dahinya bertaut.
“Semalam Bunda buka pesannya, maaf Ayah sudah tidur,” jelasku.
“Ya,
kasihan dia kebingungan, asma anaknya kambuh,” jawabnya pendek.
“Oh,
ya kasihan semenjak suaminya meninggal, dia menanggung segalanya sendirian,”
ucapku.
“Semenjak
kapan dia memanggil Ayah dengan ‘Mas’?” lanjutku. Akhirnya pertanyaan itu terlontar
juga.
“Kenapa
yang Bunda bahas jadi itu?!” ucapnya sengit. Aku pun kaget dengan nada
tingginya. Sepuluh tahun bersamanya baru kali ini dia bicara dengan nada
tinggi. Aku merasa dihadapanku bukan Mas Nikaku. Hingga dia pamit berangkat,
air mukanya masih terlihat kesal.
Naluriku
sebagai seorang istri muncul spontan. Aku mencari data seputar kegiatan Mas
Nika di kantor. Tidak ada yang melenceng, hanya setiap kegiatan Bu Prili selalu
ada di sampingnya. Hatiku jadi terbakar. Hingga tengah malam saat dia terlelap,
aku membuka gawainya. Ternyata chat demi chat mengalir antara keduanya. Bukan
soal pekerjaan tapi seputar kehidupan Bu Prili dan anak-anaknya. Dalam chatnya
tidak ada nada cinta kasih antara keduanya, apalagi kata-kata mesra. Hanya pesan-pesan
Mas Nika yang begitu perhatian. Chat mereka begitu intensnya, hingga mengundang
tanya yang besar bagiku. Rasa takut dan khawatir menyeruak tiba-tiba.
Mataku
tak bisa terpejam sama sekali, akhirnya aku bersimpuh kembali dalam sejadahku. Berdoa
sambil menangis selalu menjadi obat mujarab bagiku. Rupanya isakanku
membangunkan Mas Nika. Dia menghampiriku dan merangkulku.
“Kenapa
Bun?” tanyanya. Sementara tangisku makin menjadi. Dia membelai kepalaku, aku
hanya terdiam, Dia pun terdiam. Lama kami saling diam, akhirnya kuberanikan
diri melempar tanya.
“Ayah,
terus terang sama Bunda. Nggak usah marah, cukup keluarkan isi hati Ayah
sebenar-benarnya. Bagaimana perasaan Ayah terhadap Bu Prili?!” tanyaku tegas. Mas
Nika terkejut, hingga melepaskan rangkulannya. Aku tatap matanya, ingin kucari
kebenaran lewat matanya. Dia menghindari tatapanku. Lama terdiam, kulihat
wajahnya memerah.
“
Benar Bunda mau tahu isi Ayah yang sebenarnya?” Akhirnya dia membalas tatapanku dengan
mendalam. Dan aku menjawab dengan anggukan.
“Awalnya
Ayah dan Bu Prili tidak ada apa-apa ....” Dia menghela nafas panjang. Sementara
hatiku mulai memanas
“Niat
ayah hanya membantu setiap dia butuh pertolongan, lama-lama ... terus terang
Ayah jadi ingin melindunginya, Ayah menyayanginya.” Jantungku terasa terenggut
mendengar kalimat terakhirnya. Bara api yang tadi sudah memanas seakan meletup-letup
siap meledak di hatiku. Aku pun benar-benar menangis sejadi-jadinya nyaris menjerit.
Mas Nika menenangkanku, memelukku erat. Aku tolak pelukannya, aku merasa Mas
Nika bukan milikku lagi. Aku menjauhinya dan menutup diri di kamar lain.
Ketukannya
tidak aku gubris ketika Adzan Subuh berkumandang. Aku sama sekali tak bisa
terlelap, aku masih punya wudlu dan melanjutkan dengan Salat Subuh. Hingga pagi
menjelang, kantuk tak menghampiriku. Ketika Mas Nika pamit berangkat kerja aku
tak menggubrisnya. Hatiku sakit sekali!
Sepuluh
tahun perjalanan pernikahanku dengan Mas Nika, baru kali ini dia mengkhianatiku.
Aku buka album pernikahan, kami merasa bahagia. Suka duka kami lalui bersama. Ketika
kubuka album berikutnya, nampak fotoku sedang mengandung Jasmine. Tiba-tiba
foto itu mengundang air mataku berrumpah ruah lagi. Mungkin hal ini juga yang mendorong Mas Nika berpaling dariku.
Dia ingin punya keturunan dari rahim istrinya. Aku jadi merenung, kutenangkan
pikiran dan hatiku. Berusaha berpikir realistis,
aku tidak boleh egois.
Berhari-hari
aku mendiamkan Mas Nika. Dia jadi salah tingkah, kantung matanya menghitam sama
sepertiku, hanya mataku ditambah sembab dan daun mata membesar tanda aku
menangis terus. Aku tahu di kamar masing-masing, kami tak bisa terlelap. Aku hanya
terus berdoa dan meminta petunjukNya agar diberi jalan yang terbaik bagi kami. Hingga
suatu hari aku memutuskan menemui ibu mertuaku. Hanya dia ibu satu-satunya tempat
mengadu bagiku sekarang ini.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Komentar
Posting Komentar