Semerbak Jasmine (Part 12)
Aku
sudah berhadapan dengan ibu mertuaku, sebelum Mas Nika berangkat kerja. Aku
sudah siapkan sarapan untuknya. Mas Nika menanyakan kemana aku pergi sepagi ini
tanpa pamit lewat telepon gawainya. Rupanya dia tidak membuka pesan whatsappku,
bahwa aku pamit berangkat ke rumah Ibu. Aku menjawab teleponnya seperlunya. Ibu
merasa heran melihatku datang sepagi ini, tatapannya penuh tanda tanya besar.
Mungkin wajahku yang kuyu, kantung mata menghitam dan sembab menjawab sedikit
tanda tanyanya. Kuletakan dua mangkuk bubur ayam di hadapannya. Kusodorkan satu
mangkuk untuknya, dan kuambil satunya untukku sendiri. Kami pun sarapan
bersama. Mungkin karena berhari-hari aku tidak makan, semangkuk bubur ayam
sudah berpindah ke perutku, sementara Ibu menyisakannya hampir seperempatnya.
“Bu,
maaf Diani datang sepagi ini. Ada yang ingin Diani bicarakan bersama Ibu.” Aku
buka percakapan pagi ini. Ibu mengangguk, siap mendengarkan.
“Mungkin
Ibu masih ingat pembicaraan kita dua tahun yang lalu. Ibu memintaku untuk siap
berbagi dengan perempuan lain. Mungkin sekarang saatnya Bu!” ucapku terbata.
Ujung mataku yang mulai menganak sungai, aku lap dengan tisu. Sementara Ibu
hanya terdiam menatapku iba.
“Mas
Nika sudah menemukan perempuan itu!” lanjutku. Tangisku akhirnya pecah di
pangkuannya. Dia membelai kepalaku.
“Sudah
bicarakan hal ini dengan Mas Nikamu?” tanyanya. Aku menjawab dengan gelengan
kepala.
“Apa
benar kamu sudah siap berbagi, Nak?” lanjutnya. Matanya menatapku lurus. Aku
terdiam.
“Kamu
belum siap, Nak!” ujarnya kemudian. Ternyata Ibu bisa membaca isi hatiku.
“Pulanglah,
Mas Nikamu pasti khawatir. Bicarakan dan selesaikan baik-baik tentang hal ini. Sekarang
Ibu tak akan ikut campur.” Ibu menghela nafas.
“Maafkan
Diani Bu, Diani ingin membahagiakan Ibu dan Mas Nika. Walaupun harus berpisah
dengan Mas Nika, jika suatu saat Diani tak sanggup menjalaninya!”
Kerongkonganku tercekat, mendengar ucapanku sendiri. Ibu pun kaget dengan
ucapanku.
“Berpisah?
Ibu tidak ingin kalian berpisah karena alasan itu. Ibu sudah ihklas jika kamu
tidak bisa memberi cucu lagi. Ibu merasa bersalah kenapa harus memojokanmu dan
membuatmu menderita, padahal Alloh sudah memberi kita Jasmine. Hanya sudah
ketentuan-Nya pula Jasmine harus kembali. Bukan salahmu. Maafkan Ibu ....”
Ucapnya lirih. Air matanya mengalir.
“Sekarang
Ibu sadar, melihat kalian selalu bersama dan bahagia membuat Ibu merasa tenang
dan bahagia. Kalian bisa mengangkat anak. Dan Ibu sudah punya cucu dari adik
perempuanmu,” senyumnya tulus. Aku tatap mata Ibu, aku berterima kasih padanya
karena sudah memahami keadaan kami.
Satu
hal penting yang harus aku bicarakan secepatnya adalah niat Mas Nika terhadap
Bu Prili. Aku tak ingin digantung perasaan seperti ini. Tapi aku sendiri harus mempersiapkan diri.
Setiap sepertiga malam, tak henti-hentinya aku memohon petunjuk pada-Nya. Aku
ingin hati ini tenang, bisa ikhlas dan lapang dada menerima takdirku. Jika aku
harus dimadu demi kebahagiaan orang-orang yang aku kasihi.
Mas
Nika berusaha mendekatiku, tapi aku selalu menghindar. Kali ini aku diam saja
ketika dia duduk di sampingku. Aku tatap wajahnya, ada kerinduan yang menyeruak di hatiku. Matanya pun mengisyaratkan yang sama. “Saat yang tepat untuk menyelesaikan masalah,” batinku. Mas Nika
hanya terdiam, terlihat bingung memulai pembicaraan. Aku sudah siap mendengar keputusan Mas Nika, apapun itu! Termasuk bila
dia ingin menikahi Bu Prili. Aku tahu rasa cintanya padaku amat besar, tak
mampu meredamnya jika nanti Mas Nika menikahi Bu Prili. Hal itu yang membuatku
kuat menahan sakit.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Komentar
Posting Komentar