Semerbak Jasmine (Part 13)
Aku
tatap wajah Mas Nika dalam-dalam, aku masih sangat mencintainya. Aku ingin
membuatnya bahagia. Kuhela nafas dalam-dalam.
“Yah,
maafkan Bunda sudah menjauhi Ayah!” Kuawali pembicaraan dengan Mas Nika. Mas
Nika mengangkat wajahnya, menatap dalam mataku. Ada riak kesedihan di matanya.
“Bunda
ingin menenangkan diri sendirian.” Selama sepuluh tahun pernikahan, baru kali
ini aku bersikap demikian.
“Iya,
Ayah mengerti. Ayah sudah buat hati Bunda sakit. Maafkan Ayah.” Dia menggenggam
tanganku.
“Jangan
berbuat seperti itu lagi. Lebih baik Bunda marahi Ayah habis-habisan. Ayah
merasa sangat kesepian, sangat kehilangan Bunda.” Dia merangkulku erat seakan
tak ingin lepas lagi.
“Ada
yang ingin Bunda bicarakan, serius! Menyangkut Bu Prili!” ucapku tegas. Wajah
Mas Nika menegang.
“Bunda
ingin kepastian dari Ayah! Jawab dengan jujur! Ayah ingin menikahinya?!”
pertanyaan yang sudah kupersiapkan berminggu-minggu akhirnya keluar dengan
lancar dari mulutku. Dahi Mas Nika bertaut, seakan sedang berpikir keras.
Akhirnya dia menggeleng kepala.
“Entahlah!
Ayah hanya ingin melindunginya saja. Ayah salah, terlalu dekat dengannya hingga
ada perasaan lebih untuknya. Tapi Ayah janji akan memperbaikinya, Bun!
Ayah tak akan dekat dengannya lagi. Jadi fitnah. Ayah sudah berdosa!” Jawabnya jujur. Aku semakin yakin
Mas Nika benar-benar menyayanginya atau mencintainya. Hatiku tersayat. Cepat-cepat aku kendalikan perasaanku.
Pikiranku harus kembali pada niat semula.
“Halalkan
saja jika tak ingin berdosa!” Tiba-tiba pernyataan yang menyakitiku sendiri
terlontar begitu saja. Mas Nika terperangah, mulutnya setengah terbuka. Aku
tatap Mas Nika sambil mengangguk, tanda aku rela Mas Nika untuk menikahinya.
“Aku
akan berdoa Mas Nika cepat punya anak dengannya.” Jawabku tulus. Aku bersyukur
ternyata aku bisa tenang membicarakan hal penting ini. Mata Mas Nika menatap
mataku dengan seksama, seakan mencari kebenaran di setiap ruangnya atas semua
yang aku ucapkan.
“Bunda
benar-benar ingin Ayah menikahinya?!” Mas Nika tetap tak percaya dengan apa
yang aku ucapkan. Seperti meminta ketegasanku.
“Iya
Ayah! Semua Bunda lakukan karena ingin membahagiakan Ayah. Ayah jadi bisa punya
darah daging sendiri. Bisa memberi cucu buat Ibu ....” Jawabku mantap. Dia
memelukku erat, dan dia berbisik, “Ayah
sangat mencintai Bunda, semua pengorbanan Bunda menjadi pintu surga kelak.”
“Ayah
akan Sholat Istikharoh dulu, dan
meminta restu Ibu.” Ucapnya sumringah. Aku mengangguk. Sebentar lagi Mas Nika
bukan milikku seorang, akan ada perempuan lain di samping tubuh dan hatinya.
Jantungku berdebar kencang. Aku menyebut
Asma-Nya sebanyak-banyaknya. Aku pasrahkan segalanya pada-Nya.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Kok jadi begini ya .. gak rela rasanya.
BalasHapusHehe...yang nulisnya juga gak rela Mas, hehe.
HapusHuaaa baper bacanya😭
BalasHapus