Semerbak Jasmine (Part 14)


Aku usap ukiran nama yang terpahat pada nisan batu milik Jasmine.  “Jika kau ada, lima tahun umurmu sekarang. Sudah masuk taman kanak-kanak.  Bunda sibuk mengantarmu sekolah ... ” bisikku. “Tapi Bunda yakin, Jasmine sudah tenang di alam sana,” lanjutku. Aku taburkan bunga melati di atas tanah kuburnya. Harum semerbak menyentuh hidungku. Desiran serumpun pohon bambu terdengar merdu. Area pekuburan ini semakin luas, semakin banyak nisan bermunculan. Biasanya aku ke sini bersama Mas Nika. Kali ini aku putuskan datang sendirian. Aku harus membiasakan diri, nanti semuanya tidak akan sama. Aku harus mandiri, harus bisa sendiri melakukan segala sesuatunya. Aku melanjutkan membersihkan kubur Jasmine.

Tiba-tiba ada yang mendekap tubuhku dari belakang, aku pun meronta sekuat tenaga. Aku tengok ke belakang, nampak Mas Nika tersenyum manis. Jantungku hampir copot dibuatnya. Aku pun marah, dia malah menempelkan telunjuknya di bibirku. Aku pun sadar berada dimana. Dia meminta maaf sambil terkekeh. Dia mencariku dan dugaannya benar, aku ada di sini.  
“Bun, kalau ada, Jasmine sudah lima tahun ya?! Dari awal pernikahan kita sudah berjuang agar memilikinya. Sampai sekarang pun kita masih berjuang agar punya adiknya, hingga Bunda rela sakit hati.” Dia menghela nafas panjang. Sementara aku terdiam.
“Jasmine mengingatkanku, kalau kita selalu berjuang bersama dengan suka dan air mata,” lanjutnya. Tangannya mengusap nisan mungil Jasmine. Kami pun  berdoa bersama untuk Jasmine. Mas Nika mengajakku pulang. “Jasmine, Bunda pulang dulu ... ,“ bisikku. Ekor mataku masih terpaku pada nisannya. Desiran pohon bambu mengiringi kami melangkah pergi. Mas Nika mengenggam tanganku erat, hangat. “Ah, Ayah sampai kapan kau masih bisa begini?” batinku.

Dia membukakan pintu mobil untukku, alisku mengernyit. “Sampai segitunya Ayah mengambil hatiku, atau berterima kasih karena aku mengijinkannya menikah lagi?” batinku. Aku diperlakukan bak ratu sejagat. “Begini pria jika keinginan terbesarnya terwujud?” batinku lagi. Hari itu aku dibuatnya senang, semua yang aku inginkan dia penuhi. Aku pun mengambil kesimpulan, Mas Nika sudah memutuskan dengan yakin akan menikahi Bu Prili, karena itu dia bahagia sekali hari ini. Aku pun menghela nafas, kupersiapkan mentalku.

Aku masih merasa kikuk satu ranjang dengannya lagi. Tapi aku adalah isterinya, akan jadi isteri pertamanya. Aku harus lebih dewasa, tak mungkin bersikap menjauhinya lagi. Kami berhadap-hadapan. Dia menatapku lekat, aku menunduk, aku merasa jenggah. Dia mengangkat wajahku.
“Bunda sekarang kurus sekali!” ucapnya. Timbanganku memang turun drastis. Aku tak enak makan dan tidur beberapa bulan ini.
“Ayah sudah mengambil keputusan, dan bicara sama Ibu,” lanjutnya. Aku terdiam, menunggu keputusannya. Kuhela nafas dalam-dalam, mempersiapkan hati dan mentalku.
“Ayah ... tidak akan menikah lagi!” ucapnya terbata. Aku terperangah. Entah bahagia, entah sedih, semua perasaan bercampur aduk. Aku tak bisa berkata apa-apa.
“Ayah sungguh tidak berperasaan terhadap Bunda. Mendapat kebahagiaan di atas kepahitan Bunda. Padahal kita berjuang bersama-sama sudah sepuluh tahun lebih. Jasmine adalah bukti, bahwa kita bisa punya anak lagi. Hanya Allah menundanya saja. Maafkan Ayah sudah mengkhianati cinta dan pengorbanan Bunda!” Air matanya bertumpah ruah. Baru  kali ini setelah kepergian Jasmine, aku  melihatnya menangis seperti ini. Aku pun menangis. Kami terisak bersama, persis ketika melihat jasad Jasmine pertama kalinya. Jasmine adalah harapan kami, dan ingin mempunyai harapan untuk kedua kalinya. Biarkan wanginya selalu semerbak di hati kami, tak akan pernah pudar oleh waktu. Kami berpelukan dalam kehangatan. Penuh harap dan cinta. Seperti kami tambatkan harapan dan cinta pada Jasmine.

(Tamat)

#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)