Semerbak Jasmine (Part 3)
“Ibu,
saya periksa ya ...” ujarnya manis. Kemudian dr. Erine melakukan hal yang sama
seperti dr. Naning. Meletakkan Fetal
Doppler di perutku dan menggerakannya di area perutku. Kembali kudengar
suara “ng ... ng ... ng ....” Dicobanya sekali lagi, masih kudengar suara yang sama, dr. Erine mengernyitkan
alis. Aku tatap Mas Nika ... gusar! Dia mengusap keningku, terpancar jelas
kecemasannya. Kemudian kedua dokter cantik itu berdiskusi. Tak lama kemudian
mereka menghampiri kami. Mereka mencoba kembali alat itu, seperti ingin meyakinkan dengan pasti. Kembali kudengar suara “ng ... ng ... ng ... “ bukan suara yang
kami harapkan, kami ingin mendengar suara “deg
... deg ... deg ...” di perutku. Kedua dokter cantik berpandangan, dan
menggelengkan kepalanya pelan. Melihat gelagat kedua dokter itu, Mas Nika merangkulku erat. Jantungku langsung berdebar kencang, pikiranku berkecamuk,
mulut dan tubuhku menegang, aku terdiam menatap kedua dokter itu. Aku tak
percaya melihat sikap kedua dokter tadi.
Aku masih merasakan janin dalam perutku bergerak. Dokter pasti salah
mendiagnosa!!!
“Tadi
saya merasa dia bergerak!!!” setengah berteriak aku meyakinkan kedua dokter
itu. Kupegang perutku, aku yakin dia masih ada untuk hadir diantara kami.
“Ibu
tenang dulu, saya cek lagi ya ...” dr. Erine menenangkanku, dan kembali mencoba
Fetal Doppler.
“Ibu,
yang sabar ya ..., gerakan yang ibu rasakan, bukan gerakan janin, tapi pergerakan
usus.” Dr. Erine menjawab pertanyaanku hati-hati dengan intonansi
terputus-putus seakan sulit berucap. Tangannya mengelus tanganku. Jantungku
berdetak lebih kencang, kurasakan panas dingin. Aku masih tak percaya apa yang
Dokter katakan barusan. Aku terdiam, otakku tak bisa menerima kata-katanya.
Kedua
dokter cantik itu kembali ke mejanya, seperti mengadakan rapat singkat. Selang beberapa
menit, mereka memanggil Mas Nika. Kedua dokter itu berucap sesuatu dengan suara rendah
dan hati-hati. Kulihat Mas Nika terduduk lemas, kedua tangan kokohnya bergetar
menutupi wajahnya. Kedua dokter itu membiarkan suamiku larut dalam kesedihannya.
Akhirnya dengan tangan gemetar, dia menandatangani selembar kertas. Menyaksikan
itu semua, aku baru tersadar bahwa janin kecilku sudah tiada. Otakku baru
menerimanya, nafasku terasa berat, jantungku makin berdetak kencang, dan aku
menangis sejadi-jadinya. Aku pegang perutku, aku merasa belum rela. Kalau boleh,
aku ingin dia tetap dalam perutku. Tapi sakit yang menjadi, membuatku lemas tak
berdaya. Erangan sakit dan tangis berbarengan keluar dari mulutku. Pikiranku tak
bisa kukontrol, emosiku meledak tapi tak bisa kukeluarkan. Aku merasa Dia tidak
berpihak padaku. Mas Nika merangkulku erat dan mencium puncak ubunku. Mendekapkan
kepalaku di dadanya. Akhirnya aku merasa lebih tenang, dan kami menangis
bersama.
(bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Tiada yang lebih menyedihkan dari sebuah kehilangan...
BalasHapusBetul...Mba, berat sekali. Tapi akhirnya harus diterima
Hapus