Semerbak Jasmine (Part 4)
“Ibu,
diinfus dulu ya ... biar proses kelahirannya cepat!” ujar Perawat. Aku pasrah
saja, apa yang dilakukan Dokter dan Perawat. Batinku lelah, melebihi sakit raga
yang aku rasakan. Sambil merasakan sakit yang luar biasa, aku usap perutku
seakan mengusap kepala mungil calon bayiku. Aku mengenang ketika dia dinyatakan
ada dalam rahimku. Saat itu bahagia tidak terkira, apalagi Mas Nika. Kami menunggunya
selama lima tahun lebih. Kami mendatangi beberapa Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi, juga Dokter Andrologi untuk suamiku. Aku menderita Kista Ovarium, namun jenis kista
fungsional yang tidak mempengaruhi kesuburan. Kami baik-baik saja, hanya Alloh
memberi rizki kehamilan setelah lima tahun lamanya. Dan masa menunggu itu, sekarang
sirna seketika. Masa-masa mengandungnya yang membuatku sangat bahagia, sekarang
tidak bersisa. Nama yang sudah kami siapkan hanya untuk mengenangnya saja. Hadiah
yang akan aku persembahkan untuk ibu mertuaku tak bisa aku penuhi. Entah bagaimana
kondisi ibu mertuaku sekarang yang sangat menginginkan cucu dari anak laki-laki
satu-satunya. Aku tak bisa membayangkan tubuh rentanya semakin ringkih. Aku merasa
menjadi menantu yang tak berguna, yang tak bisa memberi kebahagiaan baginya dan
anak laki-lakinya. Ujian keikhlasan yang berat buatku. Aku pun menangis tersedu
kembali. Hanya pelukan Mas Nika yang membuatku lebih tenang.
Sakit
bercampur mulas aku rasakan detik demi detik, erangan sakit tak bisa aku tahan,
spontan keluar dari mulutku. Tak perduli lagi dengan orang-orang yang lalu
lalang di depanku. Akhirnya aku merasakan sakit dan mulas luar biasa dan tak
tertahankan. Peluh membanjiri kening dan tubuhku. Darah membanjiri kain penutup
auratku. Kukumpulkan tenaga, kutarik nafas dalam-dalam, kupegang erat tangan Mas Nika. Kukerahkan sekuat tenaga, dan dengan erangan panjang akhirnya sesosok
bayi teramat mungil muncul di hadapanku. Kutatap bayiku terpana, tubuhnya
membiru! “Ya Alloh!” Aku terpekik. Aku tak kuasa menatap tubuh birunya, kubenamkan
wajahku di dada Mas Nika dengan isakan nyaring. Kami terisak bersama. Perawat membungkus tubuh bayiku
dengan kain panjang. Kembali kutatap wajah bayiku, kusentuh pipinya, terasa
dingin. Aku meminta Perawat untuk menggendongnya, tapi Perawat tak mengijinkan
dan membawanya dengan cepat. Mataku terus mengikuti jasad bayiku, hingga
menghilang di balik pintu. Kurasakan hatiku tersayat-sayat, kepalaku terasa
berputar, pandanganku kabur. Kulihat orang-orang di sekitarku menatapku cemas. Lambat-lambat
kulihat mereka meredup, sayup-sayup Mas Nika memanggilku namaku, dan ... gelap!
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Huaaa aku nggak bisa bayangin liat sosok bayi berlumuran darah tapi badannya biru ndak bernyawa. Mungkin aku akan pingsan jugaa.
BalasHapusJangan sampai Mba. Hiks...hiks...
HapusYa Allah betapa menyedihkan. Saya selalu mendampingi istri saat melahirkan, selalu bahagia mendengar suara tangisnya dan gerakan mungilnya pertama kali hadir di dunia. Semoga diberi sabar berlebih ya ....
BalasHapusIya Mas. Kalau ini pengalaman saya pribadi. Dibumbui sedikit. Sakit sekali kehilangan anak.
Hapus