Semerbak Jasmine (Part 5)
Kusapu
ruangan rawat inap dengan pandangan hampa. Kutatap box bayi yang kosong, aku
menghela nafas panjang. Ingin kukeluarkan beban batinku dengan helaan nafas,
jika bisa! Kutatap jendela, pohon bunga kertas menghiasi tengah taman. Banyak
orang lalu lalang di depan kamarku, kulihat beberapa orang memapah seorang
wanita sebayaku keluar dari kamar di seberangku. Menyusul wanita separuh baya
menggendong bayi berbalut selimut wol. Mereka terlihat gembira, aku menatap
mereka iri. “Oa ... oa ... oa ...!” Suara bayi terdengar, reflek aku menengok
box bayiku, kosong! Astagfirullah, itu suara bayi di seberang ranjangku.
Seorang wanita tua tergopoh-gopoh menghampiri box bayi itu, kemudian
menggendongnya dan menyerahkannya pada ibunya. Ibunya kemudian menyusuinya dengan penuh kasih.
Lagi-lagi aku tatap mereka, tak terasa sudut mataku berair.
Aku
ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit ini. Tapi jarum dengan selang
terhubung satu labu darah tertancap di lengan kiriku. Aku harus
transfusi darah untuk mengembalikan Hemoglobin
yang di bawah normal. Hening! Para ibu di ruangan ini mulai terlelap, sementara
bayi mereka ditunggui sanak saudaranya. Hanya aku sendirian di ranjangku, semua
keluargaku termasuk Mas Nika pergi untuk memakamkan bayiku, mereka berduka.
Apalagi ibu mertuaku, kabar terakhir dia masuk IGD. “Maafkan aku, Ibu!” gumamku
lirih.
“Ng
... ng ... ng ...!” tiba-tiba suara itu terngiang kembali, aku tutup kedua
telingaku. Peristiwa malam itu tergambar kembali. Aku menangis sejadi-jadinya,
hingga mengusik penghuni kamar. Seorang ibu menenangkankku, seakan aku
putrinya. Setelah tangisku reda, Aku pun meminta maaf. Mereka memahamiku,
menatapku iba. Peristiwa malam itu selalu melekat di pikiranku.
Sesal
selalu datang kemudian, aku menyesal kenapa semuanya terjadi. Beberapa hari
setelah hari raya Idul Fitri, aku membersihkan rumah. Kutata kamarku seindah
mungkin untuk menyambut bayiku nanti. Semua perlengkapan bayi aku cuci dengan
suka cita. Semua tergambar indah dan membuatku bahagia. Aku tidak memperhatikan
kondisi tubuhku, usai mudik hari raya. Hingga
malam peristiwa itu pun terjadi. Penjelasan Dokter terngiang kembali. Janin
dalam rahimku kekurangan suplay oksigen. Emboli
telah merenggut nyawa janinku. Bagi ibu hamil duduk terlalu lama ternyata
membahayakan. Aku teringat selama masa kehamilan, hampir semua aktifitas sehari-hari
kulakukan dengan berjongkok, menekuk lututku. Apalagi saat mudik, lalulintas
macet sehingga aku duduk dalam waktu lama. “Maafkan Bunda, ya Nak!” gumamku
lirih. Kini tinggal penyesalan, semua tidak bisa diulang kembali. Andai ada
mesin waktu, aku ingin ke masa disaat dia masih dalam rahimku. Akan kurawat dia
sebaik-baiknya.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Aku baru tahu kalau duduk terlalu lama bagi ibu hamil membahayakan. Kalau tidur lama bahaya nggak, Bunda?
BalasHapusIya saya juga baru tahu. Ya mungkin posisi duduk yang lama, menghambat sirkulasi darah ke janin. Makanya ibu hamil dihindarkan posisi yang menekan perut. Tidur terlalu lama juga kayaknya gak baik juga deh. Yg saya tau menimbun lemak. Bayinya juga jd malas kayaknya. Hehe. Kalau bulan2 terakhir. Banyak posisi sujud biar posisi bayi.ada di tempatnya. Jalan2 santai biar mudah melahirkannya.
Hapus