Semerbak Jasmine (Part 6)


Bunga Kamboja satu persatu berjatuhan. Angin cukup kencang meniup serumpun pohon bambu, sehingga suaranya mendesir seperti suara seruling.  Desiran pohon bambu itu kudengar seperti nyanyian kehampaan, kesepian. Suasana lengang! Hanya ada deretan nisan yang membisu. Jalan setapak memanjang di hadapanku. Di ujung jalan, kulihat gundukan tanah merah membentuk bukit amat kecil. Lambat-lambat aku menghampirinya. Aku sentuh gundukan tanah merah itu dengan gemetar. Aku usap nisan kayu sederhana, di situ tertulis “Jasmine Binti Jatnika Prasetya. Lahir 10-11-2005. Wafat 10-11-2005.”

Jasmine, nama yang kami berikan sejak dia masih dalam rahimku, yang berarti bunga melati, bunga yang harum, berkeinginan kuat, penuh gairah dan penyayang. Nama itu diberikan oleh neneknya, ibu mertua. Bagi kami, nama itu penuh filosofi. Perjuangan agar dia hadir di rahimku adalah keinginan kuat kami. Bunga melati yang berwarna putih  menunjukan kesucian, dan semerbak wanginya menebarkan harapan dan kebahagiaan. Semenjak dia hadir dalam rahimku, harapan indah dan kebahagiaan mewarnai hati dan hidup kami. Akan kami kenang nama itu, hingga selalu hidup di hati kami.

Aku cium nisannya, seakan aku mencium keningnya. Doaku mengalir untuknya, tubuhku bergetar menahan diri untuk tidak menangis di atas kuburnya. “Tenanglah kau di sisi Pemilikmu,” gumamku lirih. Mas Nika membangunkan tubuhku dan memapahku menuju pulang. Rasanya berat meninggalkannya. Pandanganku tak terlepas darinya hingga hilang terhalang serumpun pohon bambu. Matahari senja sudah mulai turun, pendar-pendar sinar peraknya menyelusup di ruang-ruang mataku. Seakan ingin menunjukkan bahwa mataku mulai berlinang.

Kumasuki pekarangan rumah mungil kami, sederhana namun asri. Susah payah Mas Nika membangun rumah ini, demi membahagiakan kami, aku dan calon anaknya. Maka aku rawat rumah ini dengan tanganku sendiri, agar kami betah di dalamnya. Aku masuk ke dalam rumah, sunyi! Dan kulanjutkan langkahku ke dalam kamar. Kulihat box bayi berenda pink baby yang indah, berada di samping ranjangku. Lemari plastik merah jambu di sudut kanannya. Di atas lemari itu kujejerkan boneka-boneka yang lucu. Kedua perabot itu, sengaja dikirim ibu mertuaku. Terbayang senyum indahnya mengembang di wajah pucatnya. Gurat-gurat kecantikannya masih terlihat jelas. Ketika aku dinyatakan positif hamil, dia memeluk dan menciumku. Karena harapan menimang cucu dari anak laki-laki satu-satunya akan terwujud. Entah peristiwa apalagi yang akan terjadi setelah ini, aku tak ingin membayangkannya.

(bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung

Komentar

  1. Nama yang indah. Jadi ini alasan nama blognya bunda ria yaa? Ada Jasmine-nya.

    BalasHapus
  2. Iya Mba. Nama putri2ku disatukan. Tapi diprotes anak laki2. Namanya gak dipake hehe

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)