Semerbak Jasmine (Part 7)
Aku
duduk di tepi ranjang, kuedarkan pandangan pada seluruh sudut ruangan kamar.
Kamar yang tak begitu luas, tapi aku nyaman menempatinya. Aku hampiri box bayi,
aku bayangkan Jasmine ada di dalamnya, tidur nyenyak ketika boxnya kuayunkan.
Aku pun mencoba mengayunkan box itu, suaranya berderit lembut. Kuputar kunci
mainan yang menggantung di dalamnya, mainan itu mengembang dan berputar sambil
mengeluarkan nyanyian merdu. Aku tersenyum tipis, “Andai Jasmine ada di dalam box ini,” batinku. Kuhampiri lemari
plastik, di dalamnya sudah tersusun rapi baju, popok, gurita, celana, dan
lain-lain. Kuambil topi pink baby bersama
sarung tangan dan kaki. Kemudian kucium, wangi pelembut pakaian memanjakan
hidungku. Aku pun terpejam, tiba-tiba hatiku terasa sesak tak terbendung air
mata keluar dari ujung mataku dengan bebas.
“Bun, lagi apa?” Tiba-tiba Mas Nika ada di sampingku. Melihatku terisak, dia
mendekapku dan mengusap kepalaku. Kemudian merebahkanku di ranjang, memasang
selimut dan merapatkannya sampai dadaku. Kutatap wajah tirusnya, ada lingkaran
menghitam di bawah kantung matanya. Dia kurang tidur selama seminggu ini, badannya
menyusut drastis. Walau terlihat tegar namun aku tahu, hatinya terkoyak.
Sering kudapati dia duduk termenung sendirian.
“Ayah!”
aku usap punggung tangannya.
“Ya?”
jawabnya pendek, sambil memperbaiki letak duduknya mendekatiku.
"Ayah sedih?” Pertanyaan retoris yang dijawabnya dengan seulas senyum hambar.
“Istirahatlah,
akan kubawakan nasi soto yang tadi kita beli, ya!” ucapnya tersenyum, sambil
mengusap kepalaku. Dia pun berlalu menuju dapur. Aku tatap punggung bidangnya,
rambut ikalnya sudah gondrong. Aku bersyukur memilikinya, hatinya lembut. Marah
dia adalah diam, kalaupun harus keluar kata-kata, pendek tapi tegas. Lima tahun
bersamanya, tidak ada pertengkaran yang besar, hanya debat kecil saja. Semua
makanan yang aku masak, selalu dilahapnya habis, walaupun aku tahu masakanku
tak seenak buatan ibunya. Semua urusan rumah aku yang atur, termasuk keuangan rumah
tangga. Semua gajinya diberikannya padaku, tapi dia menggeleng kepala jika uang
gaji hampir habis sebelum waktunya. “Makan seadanya saja, sama sayur yang
murmer aja juga gak apa-apa,” ucapnya suatu ketika, ketika aku merengek uang
lebih. Dialah yang mengajarkanku berhemat, memilih dan memilah keperluan yang
sangat perlu. Kalaupun dia punya bonus dari perusahaan, dia tabung dengan
sepengetahuanku. Dan jadilah rumah mungil sederhana ini.
Sepertiga
malam aku terbangun. Kulihat Mas Nika terisak dalam doanya. Aku merangkulnya
dari belakang. Dia balas dengan menggenggam tanganku.
“Kita
sedang diuji berat, Bun! Tapi kita tak boleh menyalahkan-Nya atas musibah ini.
Jika kita kuat dan ikhlas melepas kepergian anak kita, kita termasuk orang
beruntung. Biarkan anak kita tenang di sisi-Nya. Kelak dia jadi tabungan
akhirat kita.” nasehatnya. Aku tergugu menangis di punggungnya. Aku merasa
tertohok dengan ucapannya. Aku akui, aku sempat merasa Dia pilih kasih. Kami
yang bersusah payah menginginkan anak, tiba-tiba diambilnya kembali dengan
cepat. Sementara orang lain, dengan mudahnya memiliki anak dan sehat. Aku
sadar, ujian untuk kami adalah keturunan.
“Jika
kita sabar dan berusaha kembali, InsyaAlloh
Dia akan memberinya kembali,” lanjutnya.
“Kita
simpan kenangan pahit ini sebagai ibroh
untuk kita.” Hatiku merasa nyaman mendengar ucapannya. Aku ingin berlama-lama
mendekap punggungnya.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Pasangan luar biasa yang saling menguatkan.
BalasHapusPasangan ideal hehe
BalasHapus