Semerbak Jasmine (Part 8)
Tiga
tahun berlalu semenjak kepergian Jasmine, aku masih merindukannya hingga saat
ini. Bayangan peristiwa itu masih melekat dalam ingatanku. Tapi aku sudah
mengikhlaskannya, kutata hatiku kembali. Aku sudah sadar dan menerima takdir.
Semuanya sudah normal kembali. Mas Nika sudah terbiasa dengan rutinitasnya. Dan
aku sudah terbiasa dengan keheningan rumah. Mesin jahit menjadi teman baikku
setiap siang hari. Semuanya sudah baik-baik saja. Hidup kami normal kembali
seperti biasanya.
Pagi-pagi
setelah Mas Nika berangkat kerja, aku bergegas mengunjungi ibu mertua. Mendapat
kabar Ibu sakit lagi. Benar saja, Ibu terbaring lemah dengan wajah pucat.
Nafasnya terlihat berat. Melihat kedatanganku, dia terlihat sumringah. Tanganku
dipegangnya erat. Aku mencium punggung tangannya dan menempelkan pipiku di
pipinya. Aku pun duduk di tepi ranjangnya. Kusuapkan nasi tim yang aku bawa, Ibu
makan sedikit demi sedikit. Baru beberapa suap Ibu menyudahinya.
“Nak, Ibu ingin bicara serius.” Tiba-tiba dia membuka pembicaraan dengan wajah serius.
Aku dibuatnya kaget. Aku pun mengangguk, kupasang telingaku baik-baik.
“Ibu
sayang kamu, Nak!” Aku merasa tersanjung, mataku berkaca. Ibu selalu begitu
jika akan membicarakan sesuatu yang penting, yang ada sangkut pautnya denganku.
“Ibu
sudah tua, sakit-sakitan, sepertinya waktu Ibu tinggal sedikit.” Ibu menghela
nafas panjang. Menatapku tepat di bola mataku. Matanya berkaca, mataku pun
berair. Aku tak kuasa menahan air mata jika Ibu sudah bicara demikian. Tangannya
mengenggam punggung tanganku lembut.
“Ibu
ingin ... menimang cucu dari Mas Nikamu.” Ucapnya terbata. Dadaku bergemuruh.
“Ibu
tahu Nak, kalian sudah berusaha maksimal, jalan medis sudah kalian lakukan semampu yang
kalian bisa, ada satu jalan lagi ... persiapkan dirimu berbagi dengan yang lain .... “ Suara lembut Ibu kudengar seperti petir di siang bolong. Dadaku tidak bergemuruh lagi, tapi
berubah menjadi gejolak dahsyat. Air mataku bertumpah ruah. Aku tergugu di
pelukannya, seakan aku memintanya menarik kata-katanya barusan. Ibu mengusap
rambutku.
“Maafkan Ibu, jika kamu tak siap, jangan lakukan. Ini hanya usulan saja. Ibu tahu kamu
mencintai Mas nikamu sepenuh hati, tak mungkin berbagi. Ibu tarik kembali
kata-kata Ibu barusan.” Nada bicaranya berubah sesal yang dalam. Hingga aku
pamit pulang, Ibu mengulang sesalnya. Dan menyuruhku untuk melupakan
kata-katanya tadi.
Kata-kata Ibu terus mengiang di telingaku. Walaupun Dia menyesal telah berkata demikian,
tapi bagiku itu adalah keinginannya yang terdalam. Keinginan terbesarnya menimang cucu dari anak laki-laki satu-satunya. Aku paham kenapa dia berkata
demikian, tapi berbagi cinta? Mendengarnya saja membuat hatiku beku seketika.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Sedih.
BalasHapusIya Mas. Nangis nulisnya
BalasHapus