Semerbak Jasmine (Part 9)
Malam
masih menunjukkan pukul 22.00. Aku selesaikan jahitanku. Mas Nika mengamatiku.
“Tumben
Bun, jam segini masih menjahit?” tanyanya. Tak salah kalau dia heran, biasanya
kalau malam hari aku tak pernah menyentuh jahitanku.
“Gak
apa-apa,” jawabku pendek. Sepertinya Mas Nika menangkap gejala aneh dalam
sikapku. Dia
mendekatiku.
“Kenapa Bun? Gak biasanya, ada yang dipikirkan?” Aku membisu. Mas Nika paham kalau aku diam
seribu basa, biasanya aku marah atau ada yang mengusik pikiranku. Aku singkirkan
jahitanku. Kemudian kutatap matanya dalam-dalam.
“Ayah benar-benar ingin punya anak?” Pertanyaan retoris aku lemparkan. Alisnya bertaut.
“Sudah
pasti Bun, Bunda juga ingin kan? Dokter kandungan
ternama kita kejar walaupun jauh. Kenapa gitu? Kok Bunda nanya begitu?” Mas Nika
balik bertanya.
“Kalau
Bunda gak bisa memberi anak ... , apa yang akan Ayah lakukan?” Aku tertunduk,
kumainkan benang jahit. Mas Nika makin mendekatiku.
“Kita
bisa ngangkat anak “ jawabnya datar. Kutangkap nada bicaranya tidak
bersemangat.
“Ada
cara lain, Ayah bisa menikah lagi!” Tiba-tiba pertanyaan itu terlontar
begitu saja dari mulutku. Ada gemuruh di dadaku. Bara api menyala di hatiku.
“Wah
... boleh gitu?” Nada menggoda terlontar dari mulutnya. Senyumnya dikulum. Godaan
itu malah membuat hatiku semakin panas. Aku terdiam. Mas Nika menghentikan godannya. Dia pun merangkulku.
“Bun,
jangan pernah berkata begitu, kalau Bunda tidak sanggup. Kecuali Bunda
benar-benar sanggup. Kapan ya, Bunda sanggup dimadu?” Matanya menatapku jenaka
sambil menjawel pipiku. Aku cubit pinggangnya keras-keras. Dia pun meringis
kesakitan sambil terbahak.
“Sudahlah,
kita tidur!” Mas Nika merangkulku dan memapahku menuju kamar. Dalam dekapannya,
pikiranku mengembara, membayangkan Mas Nika menikah lagi. Kutahan rasaku agar
tidak keluar berupa air mata, kutenangkan hatiku dengan beristigfar.
Sepertiga
malam aku terbangun, biasanya Mas Nika yang membangunkanku. Tapi kali ini, dia
tertidur pulas. Aku biarkan dia terlelap. Dalam hamparan sejadah, air mataku
bercucuran. Kuadukan semua kegalauan hatiku. Aku meminta petunjuknya. Jika jalan
terbaik menghadapi persoalan kami adalah sesuai permintaan Ibu, aku memohon
kekuatan dan keikhlasan. Sujud panjangku mengakhiri doaku, tubuhku terasa
lelah.
Mas
Nika membangunku. “Astagfirullah!” Kudapati
aku masih di atas sejadah. Dia mengusap kepalaku. Melihat mataku sembab, dia
merangkulku dan mengusap punggungku.
“Jangan
terlalu keras memikirkan obrolan kita semalam, kita pasrahkan saja kepada
Pemilik hidup kita,” ucapnya menenangkanku. “Ah Ayah, kau teman hidup yang mengerti diriku.” Aku bersyukur. Kudaratkan
ciuman hangat di pipinya.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePost
#TantanganCerbung
Makin asyik ceritanya.
BalasHapusAlhamdulillah
Hapus