Semerbak Jasmine (Part1)
Jarum
jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Tertatih aku menuju pintu, kubuka
daun pintu. Udara dingin menerpa wajahku. Siapa yang ingin keluar rumah selarut
ini, kalau boleh memilih lebih baik tidur di atas ranjang yang empuk
berselimutkan bed cover yang hangat. Tapi sakit di perutku menginginkan lain.
Kuseret kakiku keluar pintu, kedua kakiku enggan melangkah, seperti tahu persis
dinginnya di luar sana. Lagi-lagi perutku kurasakan sakit luar biasa. Akhirnya
kupaksakan kakiku menuju becak yang sudah menunggu setia. Harus kuhargai abang
becak itu, di tengah malam buta masih mau menarik penumpang, mungkin bukan
sekedar upah yang dia harapkan, tapi karena sisi kemanusiannya yang tinggi. Mas Nika memapahku menuju becak yang sudah dipanggilnya setengah jam yang lalu.
Kupandangi
pohon-pohon jati yang tinggi besar, berjejer di sepanjang jalan yang kami
lalui. Dahannya menyerupai tangan, rantingnya menyerupai jari jemarinya, menari-nari tertiup angin malam. Deretan pohon-pohon itu seperti Pager Ayu yang
sedang menyambut pengantin menuju pelaminan. Tetapi ketika sakit di perutku
makin menjadi, deretan pohon itu berubah
seperti jajaran orang-orang yang berharap cemas mengantarku pada kehidupan atau
kematian. Suara hewan malam seperti orang-orang mengumandangkan doa dengan
takjim. Heningnya malam, desiran angin dengan remang-remang lampu jalan,
membuat suasana malam mencekam. Aku pun memohon keselamatan.
Kurapatkan
mantelku sambil kudekap tubuh Mas Nikaku. Seperti tahu persis apa yang aku
rasakan, dia membalasnya dengan hati-hati. Takut dekapannya membahayakan
perutku, terutama makhluk kecil yang ada
di dalamnya. Dia yang dinantikan kehadirannya, diharapkannya siang malam.
Perjalanan yang tak begitu jauh, kurasakan seperti berkilo-kilo meter, karena
kurasakan sakit yang luar biasa. Udara dingin tidak menghambat rintik peluh di
keningku. Tarikan nafasku terasa berat, perutku terasa dihantam palu
berkali-kali, sangat sakit! Aku teringat ibu, “Beginikah kau ketika akan melahirkanku?” batinku.
Akhirnya
sampai juga di pelataran IGD rumah sakit umum terdekat. Seorang laki-laki
berseragam putih-putih menyediakan kursi roda untukku, dan Mas Nika bergegas mengurus administrasi. Kami
pun menuju ruang bersalin. Kusapu ruangan bersalin dengan pandangan cemas,
karena semua tempat tidur berbataskan gorden putih sudah terisi penuh. Dokter
kandungan dan perawat jaga memeriksa kartu kontrol kehamilan.
"Ibu yang bernama Diani Riana?" tanya Dokter cantik itu kepadaku. Aku pun mengangguk. Kemudian dia mengernyitkan alisnya.
“Belum
genap tujuh bulan, Bu?” tanyanya. Aku pun mengiyakan sambil meringis kesakitan.
Dokter cantik itu menatapku lekat.
“Sudah
mulas sekali ya, Bu?” simpulnya.
“Sepertinya
sudah ada kontraksi!” lanjutnya kemudian.
“Bagaimana
Pak, tempat tidur di sini sudah penuh semua!” Kali ini perawat yang bertanya.
“Ada
juga tempat tidur darurat,” lanjutnya. Aku tatap Mas Nika untuk mengiyakan saja.
Aku tak tahan lagi jika harus mencari rumah sakit lain.
(Bersambung)
#ODOPBatch5
#OneDayOnePOst
#TantanganCerbung
Lanjut
BalasHapusSiap Mas
HapusYang kuat ya mbaknya yang mau lahiran.. Semoga besok lahirannya lancar...😇
BalasHapusHehe, skrg sy gak lg hamil Mba. Ini cerita faksi.
HapusBerati dari pengalaman yaa bunda?
BalasHapusYa Mba. Pengalaman melahirkannya pribadi. Isi seluruh cerita fiksi.
HapusKasihan ya para ibu...
BalasHapusYa... Mas, makanya makin sayang ama ibu dan istrinya ya...hehe
Hapus