Anak Si Bapak


Geeer ... !!!“  Semua yang hadir di tempat pemancingan itu tertawa serempak. Hingga riuhnya memekakkan telingaku. Dadaku terasa sesak. Tak tahan memendamnya, akhirnya mulutku berteriak. “Diaaam ... !!!” Tawa mereka terhenti seketika, dan semua mata tertuju padaku. Tapi setelah mengetahui aku yang berteriak, tawa mereka semakin riuh. Aku pun menangis sejadi-jadinya sambil berteriak, “Bapak ... Bapak ... !!!” Bapakku yang basah kuyup karena tercebur ke  kolam pemancingan bergegas menghampiriku, sambil ikut tertawa.  Melihatku berteriak misuh-misuh, mereka semakin gemas. Mereka terus menggodaku. “Bapaknya ceburin lagi ya ... !” Aku semakin teriak histeris sambil menggelantung di tangan Bapak. 

Saat itu, usiaku baru lima tahun. Tapi masih melekat dalam ingatanku. Saking sayangnya pada Bapak, aku tak rela orang-orang  mentertawakannya saat tercebur ke kolam pemancingan. Sejak saat itu, teman-teman kantornya memanggilku ‘Anak Si Bapak’. Tak heran mereka mengenalku dan kerap menggodaku karena aku sering dibawa Bapak ke tempat pekerjaan. Seringkali dia membangunkanku pagi-pagi sekali, mengajak ke pemandian air hangat yang pembangunannya sedang dikerjakan olehnya. Bukan main senangnya. Mungkin saat itu, kedua adikku masih bayi hingga Mama lebih memperhatikan mereka. Bapaklah yang memberi perhatian lebih padaku. Aku si sulung yang kerap membuntuti Bapak ketika menyusuri hutan jati, berada di punggungnya ketika meniti batu di sungai. Duduk di sampingnya ketika bercengkrama dengan teman-temannya di warung kopi. Semua tergambar indah di benakku.

Saat itu, ada bisul di lutut Bapakku. Hingga jalannya pincang sambil meringis, aku  sedih melihatnya. Aku perhatikan dia meniup-niup luka bisulnya. Akhirnya aku punya ide. Kuambil air hangat, kuucapkan doa agar bisulnya sembuh. Kemudian duduk di sampingnya. Dengan mengucap Bismillah, aku cucurkan air hangat di luka bisulnya. Bapakku pun terperanjat sambil mengaduh. Aku malah bengong dibuatnya. Dia bertanya heran kenapa begitu. Aku pun menunduk takut.
Dan kujawab polos, “Biar bisul Bapak sembuh kayak di Film Si Ateng !” Dia pun tertawa terbahak. Tak jadi marah, malah mengusap rambutku.

Begitu dekatnya aku dan Bapak semasa kecil. Hingga Bapak dipanggil Mama dengan sebutan ‘Bapanya Si Ria’. Hingga dewasa sekarang ini, adik-adikku kadang cemburu. Mereka menilai Bapak lebih sayang padaku. Memang aku rasakan kasih sayang dan perhatiannya lebih besar. Perlakuannya padaku sejak kecil menjadikanku seorang  penyayang dan manja. Mudah terharu melihat bapak tua yang terlantar, atau berjalan terseok-seok karena harus menafkahi dirinya sendiri. Melihat Bapakku di hari tuanya sekarang ini, aku merasa sedih. Harus menemani Mama yang terbaring lumpuh karena penyakit Stroke. Hatiku terasa teriris ketika Bapak berucap, “ Bapak merasa hidup lagi kalau berada di kebun, memandang dedaunan, hamparan sawah dan gemericik air.”  Ternyata aku lebih menyukai keasrian alam, karena sejak kecil Bapak mengenalkannya padaku. Karena itu, aku rela bertukar waktu dan tempat menjaga Mama, agar Bapak bisa menikmati keasrian alam walau hanya sesaat.

#DeskripsiTentangDiriSendiri
#Tantangan1
#KelasFiksiODOP

Komentar

  1. Haduh bagus tulisannya mba ...
    Bahasanya mengalir tapi kuat mengikat rasa.
    Good job

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mba, nulisnya sambil berkaca mengingat masa kecil.

      Hapus
  2. Balasan
    1. Makasih Mas. Saya masih bingung ama tulisan sendiri, ini masuk deskripsi tentang diri sendiri? Aku nulis pengalaman waktu kecil aja.

      Hapus
  3. Balasan
    1. Makasih Mba. Tulisan Mbak juga keren....

      Hapus
  4. Ku terharu... anak perempuan memang biasanya lebih mudah dekat dengan bapaknya ya,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih Mba. Iya, biasanya anak sulung yang lebih dekat bapaknya. Karena anak pertama lebih didamba bapaknya hehe.

      Hapus
  5. senangnya bisa punya kenangan indah dengan Bapak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba, sampe skrg jadi bahan cerita buat anak2.

      Hapus
  6. Keren, bapaknya keren sekali, mantap ceritanya ,😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Sebenarnya Bapakku kalau marah bikin takut. Tapi kalau ama anaknya sayang banget. Apalagi ke cucunya

      Hapus
  7. Jadi kangen bapak... Aku juga anak sulung loh bun..😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, biasanya anak sulung deket ama Bapaknya. Deket juga ama Bapak, Mba?

      Hapus
  8. Balasan
    1. Iya Mba. Habis gelar anak emak sdh direbut sama adik2 heheh

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)