Si Kupik

Tugas Tantangan Pekan 2
Tema Hewan Peliharaan

Si Kupik

Bergegas aku menuju halaman belakang, dengan tangan menenteng seember baju siap jemur. Udara dingin langsung menerpa, angin berhembus dari pesawahan dengan kencang. Sepagi ini awan sudah menggelayut hitam. Alamat hujan lebat akan segera turun. Aku urungkan menjemur di halaman terbuka. Aku pilih menjemur di pinggir halaman, bagian yang tertutupi atap rumah. Sebenarnya aku malas menjemur di situ, omelan panjang Mas Eka bak kereta api pasti menjambangi telingaku. Pasalnya tempat itu dipenuhi tanaman hias koleksinya. “Kan tidak indah kalau ditambah hiasan jembrengan baju!” begitu kilahnya. Aku terkekeh mengingat mimiknya waktu itu. Terpaksa aku melanjutkan niat menjemur di tempat itu, mengingat tak ada tempat lain yang cocok untuk menjemur di musim hujan begini. Tempatnya terlindungi dari hujan, tapi sekaligus tersorot sinar matahari bila hujan reda. Makanya Mas Eka memilih tempat itu sebagai tempat koleksi Bonsai Beringinnya dan tanaman hias lainya. Tanaman itu tumbuh cantik di tempat itu karena sinar matahari pagi menyinarinya dengan bebas, dan terlindungi dari teriknya di siang hari.

Baru saja aku menjembrengi lima potong baju, sudut mataku menangkap sesuatu yang menggeliat di sampingku. Aku langsung menjerit histeris setelah memastikannya.
“Ayah ... Ayah ... !!!” kupanggil Mas Eka dengan nyaring seraya panik.
“Apaan sih Bun, teriak-teriak begitu. Malu sama tetangga!!!” tegurnya sambil mengucek matanya. Rupanya setelah salat subuh dia tertidur lagi. Alisnya mengernyit karena tidurnya terganggu dengan teriakanku.
“Itu ... ulat gede banget, iyyy!!!”  Aku bergidik. Telunjukku mengarah pada Bonsai Beringin kesayangannya.
“Haduh Bunda, kebiasaan dech ... liat ulat aja pake teriak!!!” omelnya, sambil mengamati ulat itu.
“Ayah sengaja pelihara ulat ini!” Telunjuknya mengelus punggung ulat itu.
“Hah!!! Apa ?!” Aku terkejut tak percaya.
“Masa ulat dijadiin hewan peliharaan sich Yah! Kucing kek, burung kek, tokek kek!!!” setengah berteriak aku merajuk.
“Buang ah ...!!!” Aku melotot menyaksikan ulat itu ada di telapak tangan Mas Eka. Dia malah menyodorkannya padaku. Sontak saja aku lari blingsatan, menutup pintu sekaligus menguncinya.
“Bun ... Bun ... kok dikunci sich, Ayah mau masuk!” Dia menggedor pintu, sementara aku garuk-garuk enggak gatal sambil terus bergidik. “Terlalu Mas Eka, peliharaannya kok ulat sich. Tahu isterinya takut ulat, malah disengajain!!!” gumamku kesal.
“Buang dulu!!!” Aku bersikeras. Setelah yakin Mas Eka membuangnya, aku membuka pintu. Mas Eka masuk dengan senyum cengengesannya.
“Gak lucu!!!” umpatku ngambek.
“Lanjutin jemurnya tuch, eh jangan disitu jemurnya mengganggu keindahan ....!” ujarnya.
“Jemur aja sendiri!!!” Kesalku belum tuntas. Hentakan langkahku baru saja beberapa meter, tiba-tiba hujan tercurah dengan lebatnya tanpa aba-aba. Mas Eka cepat mengambil ember berisi sisa baju yang belum dijemur. Dia sibuk membuat jemuran darurat di kamar belakang. Melihatnya aku jadi tersenyum. Dia mengedipkan sebelah matanya menggodaku. Aku melengos sambil melangkah menuju dapur.

Sore hari saatnya duduk santai berdua  Mas Eka di halaman belakang. Menikmati pemandangan sawah sore hari. Ditemani Cappuchino dan Kue Cuhcur yang masih hangat. Di samping kiri koleksi Bonsai-bonsai dan tanaman hias Mas Eka berjejer manis. Aku amati Bonsai Beringin dengan curiga. Benar saja, muncul antene entah tanduk dan satu mata besar dari balik helaian daun, merayap menggeliat hingga tampak tubuhnya sebesar jari telunjuk orang dewasa, bercorak belang hitam berpadu kuning. Sibuk memakan daun-daun yang ada di hadapannya, hingga Bonsai itu tampak nyaris gundul, hanya kuncup daun-daun  muda  bermunculan  menghiasinya.
“Iyy, kok ulat itu belum Ayah buang sih!!!” Aku bergidik merapatkan tubuhku ke punggung Mas Eka.
“Oh ... Si kupik?” jawabnya santai.
“Apa? Ayah namai Si kupik?” Aku geleng-geleng kepala tak percaya. Saking sayangnya sama ulat itu sampai diberi nama.
“Iya, sebentar lagi dia akan jadi kepompong cantik dan akhirnya jadi kupu-kupu yang super cantik. Makanya Ayah namai Kupik,  kupu-kupu cantik,” terangnya. Alisku makin berkerut.
“Ulat jenis Si kupik gak bikin gatal, makanya sengaja Ayah membiarkannya hidup di Bonsai ini. Tadinya banyak, Cuma Bunda kan takut ulat makanya Ayah pelihara satu saja, yang lain dibuang ke sawah.” Lanjutnya.
“Ayah senang sama ulat jenis Si kupik, coraknya bagus. Kalau merayap lucu, apalagi kalau disimpan di telapak tangan. Kepompongnya keemasan. Dan setelah jadi kupu-kupu coraknya menawan. Hitam kontras dengan bercak kuningnya. Kadang ada yang berwarna biru. Aih indahnya. Ayah pengen punya taman luas penuh dengan kupu-kupu,” terangnya panjang lebar. Aku melongo mendengar tuturannya. Membayangkan taman penuh dengan kupu-kupu, aku malah membayangkan taman penuh ulat-ulat, Iyyy ... aku semakin bergidik.
“Hm ...sepertinya Ayah salah pilih isteri dech, Bunda kan malah jijik, geli takut sama ulat!” Aku merengut. Mas Eka malah tertawa lepas sambil mengacak rambutku.
“Hahah ... ya gaklah, bunda adalah isteri idaman Ayah,” tuturnya masih dengan tawanya.
“Coba Bunda, kalau liat ulat jangan langsung menjerit dan lari. Mundur aja dulu beberapa langkah, sambil kuasai diri, tenangkan pikiran Bunda. Ambil nafas dalam-dalam. Sudah begitu aja dulu. Lain kali amati ulat itu, gerak-geriknya sambil kuasa diri. Gitu aja dulu. Lambat laun hilang takut Bunda,” terangnya lagi. Aku pun tarik nafas dalam-dalam.

Sepulang dari kantor, Mas Eka langsung menuju halaman belakang.
“Bun, Si Kupik mana ya?” badannya membungkuk, matanya sibuk mencari Si Kupik diantara tanaman hias.
“Ya, di Bonsai Beringin lha ... “ jawabku sekenanya.
“Gak ada, biasanya dia sembunyi di tempat yang nyaman buat semedi. Sudah waktunya dia semedi, sudah dua minggu lebih,” terangnya. Aku geleng-geleng kepala sambil berdecak. “ckckck ... sampe segitunya,” gumamku. Aku pun menghampirinya sambil meletakkan secangkir Cappuchino dan sepiring kecil pisang goreng.
“Sudah minum dulu, nanti muncul kok mendengar tuannya datang,” godaku sambil tertawa geli. Baru dengar ada seorang tuan dari hewan peliharaan seekor ulat. “Hahaha ... !!!” aku tertawa lepas.
“Bun, minta kantong keresek!” Dia tidak menggubris godaanku. Aku pun menuruti permintaanya. Ternyata kantong keresek itu diperuntukkan untuk membungkus seekor ulat bulu hitam yang menempel di daun Anggrek. Aku tidak bergeming, mempraktekkan saran Mas Eka tempo hari. Rintik peluh keluar dari pelipisku, menahan geli dan takut. Kukuasai diri agar tidak berteriak dan lari.
“Nah, kalo ulat begini pasti Ayah buang, gak perlu perintah Bunda. Bikin gatel. Nantinya juga jadi ngengat terbang kesana kemari bikin gatel kemana-mana,” terangnya lagi. Melihat wajahku pucat dan berkeringat, Mas Eka menuntunku duduk di kursi.
“Udah gak apa-apa, ulat bulunya udah mati,” jelasnya menenangkanku. Kami pun menikmati kudapan sore dengan santai.

Selepas salat Isya, Mas Eka membawa senter menuju halaman belakang. Dia menyoroti setiap ruang gelap diantara tanaman hias. Rupanya dia masih penasaran dengan Si Kupiknya.
“Bun, sini ... !” Dia memanggilku dengan senyum sumringah.
“Lihat, Si Kupik sudah jadi kepompong!”  Telunjuknya menunjuk benda kecil berbentuk lonjong hampir bulat, bersinar keemasan tersorot senter. Bergantung di bibir pot bagian belakang. Pantesan dicari tidak ada, ternyata bersembunyi di tempat tenang. Akupun terpesona melihat kilauan kepompongnya.
“Cantik ya! Kita tunggu dua minggu lagi akan keluar kupu-kupu yang cantik,” terangnya. Aku masih memandang kepompong Si kupik dengan takjub, ketika Mas Eka mengajakku masuk rumah. Aku jadi tertarik dengan serangga peliharaan Mas Eka ini.

Kupandangi Si Kupik yang sudah berubah wujud menjadi kupu-kupu yang cantik. Sayap hitam dengan motif polkadot kuningnya sangat menawan. Sayapnya masih basah, baru keluar dari kepompongnya. Butuh satu sampai dua jam untuk siap terbang. Aku bersyukur bisa mengamati  proses Si Kupik keluar dari kepompongnya. Seperti menyambut kelahiran anak kucingku semasa kecil. Aku abadikan momen ini dalam kamera gawaiku. Agar Mas Eka bisa menyaksikan juga sepulang kerja. Akhirnya Si kupik bisa terbang dengan mempesona. Berbaur dengan kupik-kupik lainnya yang bermunculan dari semak-semak pematang sawah. Indahnya, aku terpesona. Tiba-tiba aku membayangkan taman-taman penuh kupu-kupu seperti impian Mas Eka.

#KelasFiksi
#ODOP5
#OneDayOnePost 


Komentar

  1. Heuheu ulet yah? Saya juga nggak mau punya

    BalasHapus
  2. Jadi kangen liat kupu2.. Udah lama nggak liat kupu2..😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masa Mba? Sini atuh ke rumahku. Banyak kupu2 hehe

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kerling Matanya

Semerbak Jasmine (Part 10)

Semerbak Jasmine (Part 2)